BONGKAR CENTURY-GATE (Bagian Pertama)

Oleh: Rizki Ridyasmara

Sumber: Eramuslim.com

Dirangkum dari Dua Tulisan Oleh: Mugiwara no Nakama

“Kasus Bank Century jika dibuka akan panjang dan melebar kemana-mana,” kata H.M. Jusuf Kalla kepada Said Agil Sirajd, saat Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu bertemu Kalla di Jakarta (4/9). Ketika pernyataan itu dikejar, Jusuf Kalla mengelak dan hanya mengemukakan jiika dirinya sedari awal tidak setuju dengan bailout Bank Century karena yakin jika kasus yang menimpa bank tersebut merupakan perampokan pejabatnya sendiri.

Apa yang telah diduga Kalla sepertinya akan menjadi kenyataan. Hari-hari ini kita terus dibombardir perkembangan demi perkembangan kasus Kriminalisasi KPK yang entah bagaimana rupa ujungnya. Beririsan dengan kasus tersebut, sejumlah tokoh nasional dan eksponen pro-reformasi, dengan lebih kritis melihat jika keseluruhan kasus ini sesungguhnya bermuara dari kasus Bank Century.

Ketua Umum PP Muhammadiyah dan mantan presiden Abdurrahman Wahid dengan tegas menyatakan jika kasus penahanan Ketua KPK non-aktif Bibit Samad Ryanto dan Chandra Hamzah sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari pengusutan kasus pencairan dana pada Bank Century (Kompas, 1/11). ”Jauh-dekat, kasus itu ada kaitannya dengan Bank Century yang diduga melibatkan sejumlah pejabat tinggi negara,” ujar Din Syamsuddin. Sementara Gus Dur mengingatkan agar KPK tidak surut dan tetap fokus untuk mengusut kasus Bank Century.

Bahkan Tim-8 yang dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun dalam beberapa jumpa pers menyatakan jika kasus Bibit-Chandra memang terkait dengan kasus Century.

Perkembangan mutakhir kasus ini adalah dengan bergulirnya Hak Angket yang diajukan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) terhadap kasus ini yang sejak digulirkan hingga hari ini (13/11) telah mendapat dukungan 139 anggota DPR dari enam fraksi, kecuali Fraksi Partai Demokrat yang berkilah lebih memilih menunggu hasil akhir audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menurut Ketua BPK Hadi Purnomo di Jakarta kemarin (12/11), mengatakan, jika sampai saat ini BPK masih mengumpulkan data seputar Bank Century dan menganalisanya.

“Data yang telah dikumpulkan auditor BPK itu macam-macam, ada dalam bentuk wawancara, tertulis, dan ada laporan dari PPATK (Pusat Pelaporan Analisa Transaksi Keuangan),” katanya. Auditor BPK, ia berharap, bisa secepatnya menganalisa data tersebut dan menyusunnya menjadi laporan. Hadi Purnomo yang baru menjabat sebagai Ketua BPK menggantikan Anwar Nasution berharap, “Mudah-Mudahan bisa selesai, tapi jika belum selesai pada akhir Nopember, ya pada akhir Desember.”

Juru Bicara Inisiator Hak Angket Kasus Bank Century, Maruarar Sirait yang berasal dari PDIP sedikit kecewa dengan Ketua DPR Marzuki Alie yang sepertinya enggan ikut menandatangani pengajuan hak angket tersebut, walau para wakil ketua DPR lainnya telah setuju. Marzuki Alie yang berasal dari Partai Demokrat ini memang bukan sekali ini saja terkesan malas bersikap kritis terhadap pemerintahan SBY-Budiono. Ketika DPR hendak memanggil Menteri Kesehatan yang baru, Endang Sedyaningsih, yang penunjukkannya oleh SBY menimbulkan kontroversi karena dikenal sebagai orang yang akrab dengan Namru-II, Ketua DPR Marzuki Alie dengan keras menyatakan ketidaksetujuannya dan “memveto” acara rapat dengar pendapat dengan menteri baru ini dengan mengatakan jika acara-acara serupa tidak ada manfaatnya.

Pengajuan hak angket DPR sendiri sebenarnya jug amenimbulkan keraguan banyak pihak karena belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, hak angket ini biasanya hanya “panas” diawal namun dengan cepat menjadi tak jelas ujungnya atau terkesan hanya normatif. Salah satu contoh paling baik adalah ketika DPR lewat pansus hak angket Daftar Pemilih Tetap (DPT) mencoba untuk mengkritisi DPT Pemilu 2009 yang kisruh kemarin. Namun hasilnya benar-benar mengecewakan karena hanya menghasilkan keputusan normatif. Namun walau bagaimana pun, mau tidak mau rakyat harus tetap mengawasi jalannya proses hak angket terkait Century ini. Hanya saja, mungkin kita jangan terlalu berharap banyak pada parlemen negeri ini, yang bukan rahasia umum lagi sudah lama dikenal sebagai institusi yang NATO (Not Action Talk Only).

Lima Sasaran Hak Angket DPR

Juru Bicara inisiator Hak Angket Bank Century, Maruarar Sirait, dalam pernyataan tertlisnya yang dirilis Kamis (12/11) mengemukakan lima sasaran fokus penyelidikan DPR terhadap kasus ini, yakni: Pertama, “…mengetahui sejauh mana pemerintah melaksanakan peraturan-peraturan perundangan yang berlaku. Terkait keputusannya untuk mencairkan dana talangan (bailout) Rp 6,76 triliun untuk Bank Century.”

Poin kedua adalah mengurai secara transparan komplikasi yang menyertai kasus pencairan dana talangan Bank Century. Termasuk mengapa bisa terjadi perubahan Peraturan Bank Indonesia secara mendadak. Juga keterlibatan Kabareskrim Polri Komjen Pol Susno Duadji dalam pencairan dana nasabah Bank Century sebesar Rp 2 triliun.

“Juga kemungkinan terjadinya konspirasi antara para pemegang sahan utama Bank Century dengan otoritas perbankan dan keuangan pemerintah,” ujar Maruarar.

Ketiga, menyelidiki ke mana saja aliran dana talangan Bank Century, mengingat sebagaian dana talangan tersebut oleh direksinya justru ditanamkan dalam bentuk Surat Utang Negara (SUN) dan dicairkan bagi nasabah besar (Budi Sampoerna). Sementara kepentingan nasabah kecil justru terabaikan.

“Adakah faktor kesengajaan melakukan pembobolan uang negara demi kepentingan tertentu, politik misalnya. Melakukan skenario bailout bagi Bank Century?” tambah Maruarar yang akrab disapa Bang Ara ini.

Keempat, menyelidiki mengapa bisa terjadi pengelembungan dana talangan menjadi Rp 6,76 triliun bagi Bank Century tanpa persetujuan DPR. Sementara Bank Century hanyalah sebuah bank swasta kecil yang sejak awal bermasalah. Padahal DPR hanya menyetujui dana talangan sebesar Rp 1,3 triliun.

Kelima, mengetahui seberapa besar kerugian negara yang ditimbulkan kasus bailout Bank Century. Serta sejauh mana kemungkinan penyelamatan uang negara bisa dilakukan. Hal ini sangat penting mengingat kondisi rakyat banyak yang masih sangat susah hidupnya dan demi memenuhi rasa keadilan rakyat.

Kronologis Kasus Century

Sebelum membahas lebih jauh tentang perkembangan kasus yang melibatkan sekurangnya dua petinggi negara kala itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Gubernur Bank Indonesia Budiono (sekarang sebagai Wakil Presiden RI), sebaiknya kita mengetahui kronologis kasus ini agar sedikit banyak mengetahui bagaimana proses bailout pemerintah yang mengorbankan uang rakyat sebesar minimal Rp 6,7 triliun demi menyelamatkan sebuah bank kecil bermasalah yang oleh Jusuf Kalla semasa masih menjabat Wakil Presiden RI dikatakan sebagai bank yang dirampok oleh dreksinya sendiri. Dan kita juga harus memahami apakah sebenarnya mahluk yang bernama “Bailout Game” itu? Agar semua pihak mengerti betapa jahatnya tindakan yang ditempuh pengambil kebijakan negara ini terhadap rakyatnya sendiri.

Sebelumnya perkenankan kami memberi ilustrasi hakikat bank ribawi yang ada di seluruh dunia, seperti halnya Bank Century ini, agar kita semua memiliki gambaran yang sama tentang hakikat bank ribawi. Sebuah majalah humor Inggris, Punch, pada 3 April 1957 pernah memuat satu bagian tanya jawab tentang hakikat bank. Kami mengutipnya, dengan perbaikan di sana-sini, dari pendahuluan buku “The Federal Reserve, Monster dari Jekyll Island: Sebuah Studi Mendalam tentang The Federal Reserve” (Edward Griffin, 1994). Berikut tanya jawabnya:

T : Bank itu untuk apa, sih?

J : Untuk membuat uang.

T : Uang untuk nasabah?

J : Bukan, untuk bank.

T : Kok iklan-iklannya tidak bilang begitu?

J : Ya mungkin mereka kurang enak jika berkata jujur. Tapi bisa diketahui dengan melihat pada cadangan bank sekira US $249 juta. Itu uang yang bank buat.

T : Di luar nasabah?

J : Demikianlah.

T : Selain itu, bank juta menyebukan Akiva sekira US $500 juta. Apakah itu uang yang bank buat juga?

J : Tidak persis demikian. Itu adalah uang yang bank pakai untuk menciptakan uang kembali.

T : Oo, begitu. Dan bank menyimpan uang itu di tempat yang aman?

J : Tidak sama sekali. Tapi uang itu dipinjamkan kepada para nasabah.

T : Jika begitu uangnya sebenarnya belum ada dong?

J : Ya, belum.

T : Jadi, aktiva US $500 juta itu apa?

J : Lho, itu kan pasti akan jadi milik bank juga nantinya.

T : Tapi bank kan harus benar-benar punya uang yang disimpan di tempat yang aman?

J : Ya, biasanya lebih kurang US $500 juta. Ini disebut Pasiva.

T : Tapi, kalau sudah didapat, kenapa disebut lagi sebagai Pasiva?

J : Ya karena uang itu sebenarnya bukan milik bank.

T : Tapi kenapa uang itu ada di bank?

J : Karena uang itu dipinjam dari para nasabah bank.

T : Maksudnya, para nasabah meminjamkan uangnya kepada bank?

J : Tepat. Nilai uang itu dicatat di dalam buku rekening para nasabah sedangkan uangnya dipinjam bank.

T : Lalu apa yang diperbuat bank dengan uang itu?

J : Ya dipinjamkan kepada nasabah lain yang memerlukannya.

T : Hm, tadi Anda katakan uang yang dipinjamkan kepada orang lain itu adalah Aktiva?

J : Ya.

T : Jadi Aktiva dan Pasiva merupakan dua hal yang sama?

J : Ooo… tidak persis demikian.

T : Tadi Anda bilang begitu. Jika saya taruh US $100 ke dalam rekening saya di bank itu, bank wajib mengembalikannya kepada saya, maka itu disebut Pasiva. Bank itu lalu meminjamkan uang itu kepada orang lain, dan orang lain itu wajib mengembalikan kepada bank, maka uang itu disebut Aktiva. Itu kan uang Us $100 yang itu-itu juga?

J : Ya, benar itu. Tapi…

T : Kalau uang itu kita hapus, seluruh uang nasabah dihapus, berarti bank itu sebenarnya tidak punya uang sama sekali?

J : Ya, demikian secara teori…

T : Bailah jika secara teoritis. Tapi jika bank tidak punya uang, darimana bank mendapatkan cadangan sekira US $249 juta yang tadi itu?

J : Tadi kan sudah saya katakan, bank yang buat.

T : Caranya?

J : Ya, ketika bank itu meminjamkan US $100 uang Anda kepada nasabah lain, bank membebankan orang itu dengan bunga.

T : Berapa banyak?

J : Tergantung pada tingkat suku bunga. Katakanlah lima setengah persen. Itulah laba dari bank atau dikatakan sebagai bank membuat uangnya sendiri. Dari bunga.

T : Mengapa bunga itu bukan keuntungan saya? Bukankah itu uang saya sebenarnya?

J : Ya, begitulah cara kerja sebuah bank, bahwa….

T : Waktu saya pinjamkan kepada bank itu US $100 uang saya, kenapa tidak saya bebankan bunga kepada bank?

J : Lho, kan itu Anda lakukan…

T : Anda tidak bilang demikian. Berapa banyak?

J : Tergantung pada suku bunga bank itu. Katakanlah setengah persen.

T : Kok pelit sekali?

J : He he he… dan itu jika Anda tidak menarik uang Anda kembali.

T : Jika begitu lebih baik saya tarik seluruh uang saya, dan saya kubur di halaman rumah saya?

J : Jika Anda berbuat begitu, bank tidak akan senang.

T : Kok begitu? Bila saya biarkan uang saya di bank, kan jadinya Pasiva. Dengan begitu saya kan mengurangi beban kewajiban bank?

J : Bukan begitu. Kalau Anda tarik uang Anda, maka bank tidak punya Aktiva.

T : Tapi bukankah kalau kita ingin menarik uang kita kembali, bukankah bank harusnya mengizinkannya?

J : Pastilah…

T : Tapi, jika uang saya sedang dipinjamkan oleh bank ke nasabah lain bagaimana?

J : Bank akan mempersilakan Anda mengambil uang orang lainnya.

T : Tapi jika orang lain itu juga ingin mengambil uangnya? Semua nasabah serentak ingin mengambil uangnya sendiri, bagaimana?

J : Itu kan teori. Dalam kenyataannya tidak demikian.

T : Kalau itu terjadi juga dalam kehidupan nyata?

J : Ya, bank tidak akan mampu untuk mengembalikan uang seluruh nasabahnya…

T : Kalau begitu bank sebenarnya tidak punya komitmen dong.

J : Saya tidak bilang begitu.

T : Tentu saja Anda tidak akan jujur bilang demikian. Cukup atau masih ada keterangan lain?

J : Cukup sajalah. Anda kini boleh pergi ke bank dan membuka rekening.

T : Mm… sebenarnya masih ada satu lagi pertanyaan.

J : Boleh, apa itu?

T : Saya pikir, apa tidak sebaiknya saya membuka bank saja ya?

Demikianlah hakikat bank. Bank konvensional hanya bisa hidup dan bertahan karena mendapat kepercayaan (Trust) dari nasabahnya. Sedangkan kepercayaan nasabahnya tumbuh karena bank mendapat jaminan dari bank sentral. Setiap tahun bank mendapat rating dari bank sentral dan dari rating itulah kepercayaan nasabah bisa bertambah atau turun.

Bank Century, bertahun-tahun bank ini memiliki rating yang buruk. Namun dalam kasus Bank Century sekarang, adalah sangat ganjil ketika bank yang buruk ini “dipercaya” oleh nasabahnya sehingga nasabahnya mau menyimpan uangnya dalam jumlah yang sangat amat besar. Ini sungguh-sungguh aneh sehingga menimbulkan banyak tanda tanya. Salah satu dugaan yang mengemuka adalah, seperti yang dikatakan ekonom Ichsanudin Noorsi di berbagai forum, Apakah Bank Century yang rapuh ini telah dijadikan lembaga pencucian uang menjelang Pemilu 2009 kemarin, di mana dananya mengalir ke sebuah partai politik besar? (bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s