KENAPA MASIH MENDUKUNG OBAMA?

Ada kabar terbaru nih soal Pemerintahan Obama. Berikut beritanya , seperti dilansir dari Eramuslim.com:

Presiden AS Barack Obama boleh saja beretorika akan menarik pasukannya dari Afghanistan dalam sekian bulan atau tahun. Tapi tidak demikian halnya dengan Menteri Pertahanan Robert Gates yang terang-terangan mengatakan bahwa tidak ada batas waktu bagi penarikan mundur pasukan AS di Afghanistan. Itu artinya, AS bisa selamanya menjajah dan memporak-porandakan Negeri Para Mullah itu.

“Terus terang, saya benci dengan istilah strategi keluar,” kata Gates. Dengan sesumbar, Gates berjanji akan lebih fokus untuk memburu anggota dan para pendukung Al-Qaida dengan “tujuan yang jelas dan kemajuannnya bisa terukur.”

“Yang paling esensial untuk keamanan nasional kita adalah, kita memiliki dua partner jangka panjang, Afghanistan dan Pakistan. Saya pikir, presiden sebagai panglima tertinggi selalu punya pilihan untuk menyesuaikan keputusan-keputusannya,” papar Gates.

Pernyataan Gates bahwa tidak ada batas waktu penarikan pasukan AS dari Afghanistan diperkuat dengan pernyataan Menlu AS Hillary Clinton dalam rapat dengar pendapat dengan komite Senat AS hari ini. Clinton mengatakan bahwa pemerintah tidak mau mengungkung diri ke dalam target penarikan pasukan. Di sisi lain, Clinton mengatakan bahwa AS tidak tertarik untuk terus menjajah Afghanistan, tapi cuma ingin memberangus gerakan Taliban yang “bersarang” di negeri itu.

“Al-Aqaida dan Taliban bisa membuat seluruh kawasan kacau. Situasinya sekarang makin serius dan memburuk. Secara pribadi saya bertanggung jawab untuk menolong bangsa kita dari kekerasan. Taliban mendapatkan momentum di Afghanistan dan di Pakistan, ekstrimis makin subur. Kita akan bekerja sama dengan Afghanistan dan Pakistan untuk menghancurkan Al-Qaida,” tandas Clinton.

Yang menjadi kekhawatiran dewan legislatif AS terhadap strategi perang Obama adalah darimana Obama akan mendapatkan dana untuk membiayai perangnya. Obama menyatakan membutuhkan dana untuk perangnya sebesar 30 milyar dollar.

Anggota Legislatif AS juga mempertanyakan posisi Hamid Karzai yang posisinya lemah, karena pemilu Afghanistan kemarin diwarnai kecurangan. Termasuk korupsi yang merajalela di pemerintahan Karzai.”

Sebelumnya pemerintahannya juga berjanji akan menurunkan 30 ribu lebih pasukan ke Afghanisthan. Berikut petikan beritanya:

Presiden AS Barack Obama memerintahkan pengiriman sekitar 30.000 pasukan tambahan ke Afghanistan. Perintah itu merupakan bagian dari strategi baru AS di Afghanistan yang akan disampaikan Obama dalam pidato resmi kenegaraannya pada hari Selasa waktu setempat dari akademi militer AS West Point.

Obama sudah memanggil para petinggi militernya pada hari Minggu malam ke Ruang Oval Gedung Putih terkait pengiriman pasukan tambahan itu. Dan hari ini atau hari Senin waktu AS, Obama menghubungi para pimpinan negara-negara yang menjadi sekutu AS dalam perang di Afghanistan, antara lain Inggris, Prancis dan Rusia serta Perdana Menteri Australia, untuk meminta jaminan dukungan pengiriman pasukan tambahan tersebut.

Surat kabar Prancis Le Monde dalam laporannya menyebutkan, Obama meminta Prancis untuk mengirimkan sekitar 1.500 pasukan tambahan. Sementara PM Inggris Gordon Brown sudah menyatakan siap mengirimkan 500 pasukan tambahan pada awal Desember dan berkomitmen untuk menambah pasukannya di Afghanistan sampai mencapai jumlah 10.000 pasukan. Sementara PM Australia, Kevin Rudd bersedia mengirimkan pasukan yang akan melatih polisi-polisi Afghanistan dan sejumlah pakar bantuan kemanusiaan ke Negeri Para Mullah.

Dengan penambahan pasukan sebanyak 30.000 orang, maka total jumlah pasukan AS di Afghanistan lebih dari 100.000 tentara. Jumlah sebanyak itu menjadi persoalan tersendiri bagi AS yang sedang dilanda krisis ekonomi dan tingkat pengangguran yang tinggi, karena AS harus menyediakan dana sebesar 75 juta dollar per tahun untuk membiayai pasukannya di Afghanistan.

Secara keseluruhan, AS akan menghabiskan dana hampir 1 triliun dollar sampai akhir tahun fiskal 2010 untuk mendanai perangnya di Irak dan Afghanistan. Selain itu, selama hampir delapan tahun perang, sedikitnya 900 tentara AS tewas di Afghanistan.

Rencana AS menambah pasukannya di Afghanistan dikritik oleh Presiden Pakistan Yousuf Raza Gilani yang khawatir penambahan pasukan akan berdampak pada stabilitas di dalam negerinya. Dalam wawancara hari Minggu kemarin, Gilani mengatakan, penambahan pasukan AS akan mendorong makin banyaknya militan dari Afghanistan yang masuk ke wilayah Pakistan dan mereka akan membuat kekacauan di Pakistan.

Dan sebelumnya:

“Presiden AS Barack Obama bertemu dengan Tim  NSC (National Security Council – Dewan Keamanan Nasional), Senin (23/11), di Gedung Putih, mendiskusikan tentang pilihan yang akan diambil terhadap prang di Afghanistan. Obama yang sudah bertemu dengan tim NSC itu memilih opsi mengirimkan lebih banyak lagi tentara ke Afghanistan.

Sesudah pertemuan lengkap yang dihadiri tokoh dalam Tim NSC, nampaknya Presiden Obama akan segera mengumumkan langkah-langkah yang akan diambil terhadap Afghanistan. Pertemuan yang berlangsung di Gedung Putih itu, berlangsung hari Senin malam (23/11), ujar juru bicara Gedung Putih, Robert Gibbs.

Pertemuan Senin petang itu, berlangsung hingga pukul 10.00 pm, yang dihadiri Wapres Joe Biden, Menhan Robert Gate, Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Laksamana Mc Mullen, Panglima paskan AS di Afghanistan Jendral Mc Chrystal, dan Dubes AS di Afghanistan, Karl Eikenberry. Meskipun, ketika bertemu dengan sejumlah pejabat militer AS, ketika memperingati hari Veteran Perang, tanggal 11 Nopember, Presiden Obama telah meminta agar dilakukan revisi terhadap rencana penambahan  pasukan AS di Afghanistan. Obama juga memikirkan bagaimana strategi militer AS dapat ‘keluar’   dari Afghanistan.

Menurut informasi dari Gedung Putih, Obama memilih menambah jumlah pasukan AS dengan jumlah sekitar 34.000 ke Afghanistan, sehingga jumlah pasukan AS di Afghanistan akan mencapai 68.000 pasukan untuk menghadapi Taliban. Sebelumnya, pertemuan yang berlangsung 11 Nopember itu, Jendral David Petraeus, Panglima Pasukan AS di Timur Tengah, lebih menginginkan pendekatan penguatan pasukan Afghanistan, bukan penambahan pasukan ke Afghanistan.

Menlu AS, Hallary Clinton, yang belum lama berkunjung ke Kabul, dan bertemu dengan Hamid Karzai, menjelang pelantikan Presiden Hamid Karzai sebagai kesempatan penting, menegaskan komitment AS kepada Karzai agar segera memperbaiki pemerintahannya, dan memberantas korupsi. Richard Holbrooke, yang menjadi utusan khusus Presiden Obama menginginkan agar rakayt Afghansitan menolong dirinya sendiri, dan mengurangi campur tangan AS di negeri.

Keputusan Obama yang akan mengirim lebih banyak lagi tentara ke Afghanistan, hanya akan menciptakan negeri itu menjadi lebih tidak stabil. Karena, sepanjang sejarah Afghanistan telah menjadi ‘kuburan’ bagi para penjajah. Itu sudah terbukti.”

Hal ini dilakukan mungkin karena Taliban makin berkuasa karena jauh sebelumnya berita ini juga sudah tercium jelas. Silahkan lihat situs ini tentang Taliban.

Melihat pemerintahan Obama makin haus perang, Michael Moore mengirimkan surat untukm Presiden Barack Obama:

“….Moore mengatakan, Obama akan menjadi “presiden perang” yang baru jika mengirimkan pasukan tambahan ke Afghanistan.

“Dengan hanya satu pidato, Anda akan membuat banyak orang-orang muda yang menjadi tulang punggung dalam kampanye Anda, kecewa dan bersikap sinis,” tulis Moore dalam surat terbukanya untuk Obama, yang ditulis di situs pribadinya.

Moore mengatakan bahwa tugas Obama bukan untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh para jenderalnya, karena AS bukan negara militer.

“Kita adalah pemerintahan yang dijalankan oleh orang sipil,” tukas Moore yang memang dikenal vokal mengkritik kebijakan perang pemerintahan negaranya.

Sutradara kondang itu juga menepis soal eksistensi Al-Qaida di Afghanistan. Menurutnya jumlah anggota Al-Qaida di Afghanistan tidak lebih dari 100 orang. “Ide mengerahkan 100.000 pasukan untuk memberangus anggota Al-Qaida yang jumlahnya cuma ratusan di gua-gua tempat mereka tinggal, mengindikasikan bahwa Obama sudah seperti Bush,” tegas Moore.

Nama Michael Moore makin mencuat di tengah publik AS setelah ia membuat film dokumenter “Fahrenheit 9/11″. Lewat film itu Moore berhasil menggalang opini publik untuk melawan kebijakan-kebijakan Presiden Bush, terutama kebijakan perang Bush di Irak.”

Ada yang menarik terkait pemerintahan Obama ini. Bahwa kita semua tahu kalau ternyata Obama didukung sepenuhnya oleh lobi Zionis Yahudi di AS yang makin berkuasa menguasai pemerintahan AS. Peneliti Zionisme, Rizki Ridyasmara pernah menulis sebuah artikel panjang tentang Obama. Berikut petikannya:

…Reaksi dunia menyambut kemenangan seorang Obama dimana berbagai harapan besar dialamatkan kepadanya patut dilihat dengan kacamata yang jernih dan adil. Apakah benar seorang Obama akan bisa mengubah sifat politik luar negeri AS yang selama ini sangat menguntungkan gerakan Zionisme Internasional, sangat imperialistik, menjadi sikap politik luar negeri yang lebih berkeadilan dan tidak egois.

Jauh-jauh hari, di awal tahun 2000-an, Ustadz Rahmat Abdullah telah memberi tausiyah terkait kepemimpinan di AS. Beliau yang suka sekali dengan fabel atau perumpamaan dengan kisah-kisah binatang dalam tausiyah-tausiyahnya, menyatakan, “Kita tidak bisa terlalu berharap pada perubahan kepemimpinan di AS. Tidak akan pernah ada seorang calon presiden di negeri tersebut yang bisa tampil tanpa membawa restu dari lobi Yahudi yang sangat dominan di AS. Siapa pun presidennya, bahkan jika seekor monyet yang jadi Presiden AS, maka Amerika Serikat akan tetap seperti itu, tidak akan pernah berubah.”

Adalah fakta yang tidak bisa dibantah jika Obama mendapat dukungan dari lobi Zionis-Yahudi AS. Demikian pula dengan John McCain. Dan Obama pun dalam masa kampanyenya telah berkali-kali menyatakan dirinya akan selalu membela dan mengutamakan Zionis-Israel sampai kapan pun.

“Saya berjanji kepada Anda bahwa saya akan melakukan apapun yang saya bisa dalam kapasitas apapun untuk tidak hanya menjamin kemanan Israel tapi juga menjamin bahwa rakyat Israel bisa maju dan makmur dan mewujudkan banyak mimpi yang dibuat 60 tahun lalu,” kata Obama dalam sebuah acara yang disponsori oleh Kedutaan Besar Israel di Washington untuk menghormati hari jadi negara Israel yang ke-60.

Amerika Serikat adalah Israel besar dan Israel adalah Amerika Serikat kecil. Fakta ini sudah diketahui semua pengamat internasional dan dunia akademis. Proses kelahiran negara AS pun sesungguhnya dinisbahkan untuk melayani kepentingan Yahudi Internasional (baca Eramuslim Digest edisi ‘The New Jerusalem: The Secret History of America’). Lobi Yahudi menguasai seluruh sektor vital di AS. Bahkan (alm) Letjend (Pur) ZA. Maulani mencatat jika sejak masa Presiden Bill Clinton, seluruh posisi kunci di Kementerian Luar Negeri AS dipegang oleh Yahudi Radikal laki-laki, di pimpin oleh seorang—satu-satunya—perempuan Yahudi Radikal bernama Madelaine Albright.

Sebab itu, seperti yang telah dikatakan Ust. Rahmat Abdullah, siapa pun presidennya dan sampai kapan pun, AS akan tetap berkiblat dan berkhidmat kepada kepentingan Zionis Internasional. Adalah mustahil mengharapkan AS bisa bersahabat secara murni dengan Dunia Islam…

Peneliti Jerry D Gray, pernah dalam sebuah kesempatan mengatakan, kalau jika  Obama berani membelot terhadap Zionis Yahudi, maka nasib dirinya dan keluarganya akan dipertaruhkan. Maukah Obama berakhir seperti nasib Presiden AS Abraham Lincoln atau Presiden AS John F Kennedy? Jawabannya hanya ada pada Obama seorang… (eramuslim/mugiwara no nakama)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s