Amerika: Kerajaan Superpower Di Tepi Jurang

Sebutlah ini geometri fraktal dari sebuah krisis fiskal. Jika Anda terbang melintasi Samudra Atlantik pada hari yang cerah, Anda dapat melihat ke bawah dan melihat fenomena yang sama tetapi dalam empat skala yang sama sekali berbeda. Pada satu ekstrem ada Islandia yang kecil. Lalu ada sedikit Irlandia, diikuti dengan si ukuran sedang, Inggris.

Semua negara itu lebih kecil daripada Amerika Serikat. Tapi dalam semua kasus krisis ekonomi, negara-negara itu mengalami hal yang sama: krisis perbankan yang akut, diikuti oleh krisis fiskal yang besar pula. Itu semua karena tindakan pemerintahnya yang telah mengeluarkan dana bail out untuk menyelamatkan system keuangan swasta.

Ukuran itu penting, tentu saja. Untuk negara-negara kecil, krisis keuangan adalah masalah besar. Namun untuk Amerika Serikat, krisis fiskal adalah sebuah ketakutan terbesar dalam keseimbangan ekonomi. Para ahli militer mempertanyakan pengiriman 30.000 tentara tambahan ke Afghanistan dan menyebutnya sebagai momen sesaat. Kenyataannya, keputusan Barack Obama—presiden AS—akan menggoyahkan keamanan negara dalam jangka panjang. Sebutlah Amerika sebagai negara superpower, jika Anda mau, atau kerajaan, tapi kemampuannya dalam mengelola keuangannya sangat terikat dengan kekuasaan global militernya. Suatu hal yang mencekik.

John Maynard Keynes pernah berdebat bahwa menaikkan anggaran utang federal akan menghindari depresi jilid dua. Mungkin, meskipun sebagian pihak akan mengatakan bahwa stimulus fiskal telah membumbung namun sihir dari pengaliannya berubah menjadi nol. Kredit menjadi sangat laten, karena segala macam kenaikan di Amerika akan turun lebih rendah tanpa adanya pengeluaran dari pemerintah. Itu bukan sesuatu yang mengejutkan. Ingat, apa yang membuat sebuah stimulus berhasil adalah perubahan dalam memimjam semua sektor publik. Karena pemerintah federal telah mengalami defisit, dan karena negara juga menaikkan pajak dan memangkas anggaran, ukuran stimulus yang sebenarnya akan terus turun.

Ayo kita lihat fiskal AS di tahun 2009. Berjumlah lebih dari $1,4 trilyun—sekitar 11,2 persen dari GDP, menurut Congressional Budget Office (CBO). Itu adalah angka defisit stimulus paling besar sejak tahun 1942. Artinya, orang Amerika mempunyai kebijakan fiskal yang sama dengan ketika terjadi perang dunia, padahal perangnya sendiri tidak ada. Mungkin betul, AS tengah berperang di Afghanistan dan masih menempatkan pula beberapa ribu pasukan di Iraq, tapi “kontribusi” mereka pada badai fiskal hanya 1,8 persen dari GDP, bahkan jika diakumulasikan dari $3,2 trilyun seperti yang dipublikasikan oleh ekonom Kolumbia, Joseph Stiglitz di bulan Februari 2008.

$1.4 trilyun hanya permulaan. Menurut CBO, defisit pemerintah akan mencapai 11,2 persen tahun ini, 6,1 persen pada 2012, dan 3,7 persen pada 2012. Setelah itu, angka defisit akan terus bertahan di 3. Sementara dalam terminologi dollar, total utang yang meningkat adalah dari $5,8 trilyun pada tahun 2008 menjadi $14,3 trilyun di tahun 2011! Artinya, dari 41 persen menjadi 68 persen.

Dalam kata lain, orang Amerika akan menanggung utang selama sisa hidupnya. Setidaknya sampai pajak dipotong, tak akan pernah ada anggaran yang seimbang. Katakanlah, seseorang sekarang ini hidup sampai 30 tahun kemudian dan mengiringi kematian kakeknya yang berusia 75 tahun. Pada tahun 2039, utang federal terhadap masayrakat akan mencapai 91 persen dari GDP—itu menurut CBO. Paul Krugman, seorang ekonom menyindir, tak ada yang perlu dikhawatirkan, karena pada tahun 1945, defisit AS mencapai 113 persen.

Tapi itu tahun 1945, bukan 2039. Utang akan menerjang sampai 215 persen pada 2039, dan betul, dua kali lipat lebih dari seluruh ekonomi AS. Ini bukan cuma sekadar prediksi. Ini adalah suatu efek dari ketidakseimbangan anggaran dan pengeluaran, yang sekarang, semua implikasinya telah begitu jelas.         

Sekarang, Republik China memiliki sekitar 13 persen dari obligasi pemerintah AS dan dengan catatan itu semua di tangan publik. Tapi tidak ada yang namanya makan siang gratis di dunia keuangan internasional.

Menurut Fred Bergsten dari Peterson Institute for International Economics, jika tren ini berlanjut, defisit neraca pembayaran AS dapat meningkat sampai 15 persen dari PDB pada tahun 2030, dan utang bersih ke seluruh dunia bisa mencapai 140 persen PDB. Dengan skenario semacam itu, AS harus membayar sebanyak 7 persen dari PDB setiap tahun untuk layanan pinjaman kepada pihak asing.

Mungkinkah itu terjadi? Memang belum pasti. Untuk satu hal, depresiasi dolar yang signifikan tampak lebih jelas . Namun posisi Amerika Serikat selalu lebih beruntung karena mempunyai hak untuk mencetak uang sendiri.

Akibatnya, akan muncul prediksi bahwa pemerintah biasanya akan melakukan beberapa cara: mencetak uang, baik untuk membayar tagihan saat ini dan untuk membayar utang, sehingga menjadi jelas, suku bunga akan melambung .

Paul Krugman, “sang nabi” Keynesianisme, menulis kembali pada Maret 2003. Setahun setengah kemudian ia membandingkan defisit AS dengan defisit Argentina—pada saat itu 4,5 persen dari PDB. Argentina adalah sebuah defisit sangat besar, namun tahun depan, dunia mungkin akan menyaksikan defisit lain yang lebih besar lagi.

Sejarah sangat mendukung bahwa krisis keuangan selalu diikuti oleh krisis fiskal yang besar. “Rata-rata,” tulis Carmen Reinhart dan Kenneth Rogoff dalam buku baru mereka, This Time Is Different, “utang pemerintah meningkat 86 persen selama tiga tahun setelah krisis perbankan.” Sebagai akibat ledakan utang ini, salah satu dari dua hal bisa terjadi: kembali ke seperti semula, biasanya ketika utang dalam mata uang asing, atau serangan inflasi yang tinggi yang bisa memalingkan wajah para kreditur. Semua sejarah kerajaan Eropa akrab dengan episode tersebut. Memang, inflasi yang tinggi cenderung menjadi yang paling pasti dari gejala penurunan kekuasaan.

Sepertinya Amerika Serikat tidak mungkin ke posisi pada awal utang, karena itu semua dalam dolar. Pertanyaan kuncinya, apakah kita akan melihat Bank Sentral “mencetak uang dengan tentu saja diikuti oleh kisah akrab kenaikan harga dan penurunan beban utang yang nyata. Ini adalah skenario yang membuat banyak investor di seluruh bumi ketakutan. Itulah sebabnya mereka menjual dolar. Itulah sebabnya mengapa mereka membeli emas.

Dengan pengangguran AS di atas 10 persen, serikat buruh relatif lemah, dan sejumlah besar kapasitas terpakai manufaktur global, tidak ada satu pun dari tekanan yang dibuat untuk stagflasi (pertumbuhan rendah ditambah dengan harga tinggi) pada 1970-an. Ekspektasi inflasi masyarakat juga sangat stabil, sejauh dapat dinilai dari data polling dan perbedaan antara pemasukan yang teratur dan inflasi yang dilindungi obligasi.

Jadi, inilah skenario lain–yang mungkin lebih buruk daripada skenario inflasi. Apa yang terjadi adalah bahwa kita mendapatkan kenaikan tingkat bunga riil, dimana tingkat bunga aktual dikurangi inflasi. Menurut sejumlah besar penelitian empiris oleh para ekonom, termasuk Petrus Orszag (sekarang di Kantor Manajemen dan Anggaran), peningkatan yang signifikan dalam utang GDP ratio cenderung untuk meningkatkan tingkat bunga yang nyata.

Salah satu studi baru-baru ini menyimpulkan bahwa “20 persen peningkatan dalam pemerintah AS utang GDP ratio harus mengarah pada 20-120 basis poin [0,2-1,2 persen] kenaikan tingkat suku bunga riil.” Hal ini dapat terjadi di salah satu dari tiga cara: tingkat bunga nominal meningkat dan inflasi tetap sama; tingkat nominal tetap sama dan inflasi turun, atau-kasus mimpi buruk tingkat bunga nominal dan inflasi naik turun.

Kaum Keynesian sekarang ini menyangkal bahwa ini bisa terjadi. Tapi bukti sejarah melawan mereka. Ada sejumlah kasus masa lalu (misalnya, Prancis pada tahun 1930-an) ketika tingkat nominalnya meningkat bahkan pada saat deflasi.

Terlebih lagi, tampaknya terjadi di Jepang sekarang. Baru minggu lalu Hirohisa Fujii, menteri keuangan Jepang yang baru , mengakui bahwa ia “sangat prihatin” tentang kenaikan obligasi pemerintah Jepang baru-baru ini. Pada minggu yang sama, pemerintah mengakui bahwa Jepang sudah kembali ke deflasi setelah tiga tahun kenaikan harga.

Ini tidak dapat dibayangkan bahwa hal serupa bisa terjadi di Amerika Serikat. Investor asing bisa saja meminta nominal yang lebih tinggi atas Keuangan AS untuk mengimbangi mereka karena melemahnya dolar. Dan inflasi mungkin akan terus mengejutkan rakyat AS pada sisi negatifnya. Bagaimanapun, inflasi harga konsumen di wilayah sangat negatif sekarang ini. 

Pemerintah federal AS saat ini sudah menaikan pembayaran bunga sebanyak 8 persen dari pendapatan pada tahun 2009, menjadi 17 persen tahun 2019 nanti, meskipun tingkat pertumbuhan tetap rendah. Bahkan jika tingkat pendatapan naik pun dan ekonomi berjalan sedikit stabil, AS hanya akan mendapatkan sampai 20 persen lebih cepat. Dan sejarah menunjukkan bahwa setelah negara menghabiskan seperlima penghasilan negara untuk membayar utang, negara tetap akan punya masalah.

Ini semua terlalu mudah untuk menemukan negara dalam lingkaran setan yang semakin menurun kredibilitasnya. Para investor tidak percaya bahwa negara dapat membayar utangnya, sehingga mereka menekan biaya bunga yang lebih tinggi, yang membuat posisi negara—dalam hal ini, AS—lebih buruk lagi.

Hal ini jelas, masalah besar untuk negara besar itu daripada sebuah pulau kecil di Atlantis, karena satu alasan sederhana. Karena pembayaran bunga memakan anggaran, maka akan ada sesuatu yang harus dikeluarkan dan ada sesuatu yang lain pula yang hampir pasti selalu menggeoroti pertahanan pengeluaran. Menurut CBO, penurunan yang signifikan dalam anggaran federal sudah seperti adonan yang dimasukkan ke dalam kue. Rencana Pentagon saat ini, anggaran pertahanan dari 4 persen sekarang menjadi 3,2 persen dari PDB pada tahun 2015 dan menjadi 2,6 persen dari PDB pada 2028.

Maka, pada rencana jangka panjang, mungkin pada 2039, pengeluaran kesehatan meningkat dari 16 persen menjadi 33 persen dari PDB (sebagian uang mungkin akan membuat rakyat AS kadaluarsa lebih cepat). Tapi pengeluaran segala sesuatu selain kesehatan, jaminan sosial, dan pembayaran bunga, turun dari 12 persen menjadi 8,4 persen.

Begitulah kerjaan Amerika akan tenggelam. Dimulai dengan ledakan utang, dan diakhiri dengan pengurangan yang terelakkan dari sumber daya yang tersedia untuk Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara. Itulah sebabnya rakyat AS benar-benar khawatir tentang krisis utang Amerika. Menurut laporan Rasmussen baru-baru ini, 42 persen orang Amerika sekarang mengatakan bahwa “Tidak” untuk pemotongan anggaran kesehatan.

Jika Amerika Serikat tidak segera datang dengan rencana yang kredibel untuk mengembalikan keseimbangan anggaran federal selama lima sampai 10 tahun, bahaya ini sangat nyata bahwa krisis utang dapat mengakibatkan melemahnya kekuasaan besar Amerika.

Semua presedennya sudah terjadi. Spanyol gagal dalam membayar utangnya sebanyak 14 kali antara 1557 dan 1696 dan menyerah pada inflasi akibat kelebihan Dunia Baru. Sebelum revolusi, Prancis menghabiskan 62 persen dari pendapatan negara untuk membayar utang pada 1788. Kekaisaran Ottoman mati dengan cara yang sama: pembayaran bunga meningkat 15 persen dari anggaran tahun 1860 menjadi 50 persen pada tahun 1875. Dan jangan lupakan Inggris. Pada tahun-tahun peperangan, pembayaran bunga memakan 44 persen dari anggaran Inggris, sehingga sangat sulit untuk mempersenjatai kembali dalam menghadapi ancaman Jerman baru.

Sebut saja ini arimetika fatal tentang kejatuhan sebuah kerjaan. Tapi, tanpa reformasi fiskal yang radikal, semua itu tak sangsi lagi, akan terjadi pada Amerika. (eramuslim/newsweek)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s