THE SHORT STORY OF THE FEDERAL RESERVE

Suasana di setasiun keretaapi New Jersey itu lain seperti biasanya. Malam itu beberapa orang terlihat sibuk, termasuk seorang pria bernama Nelson Aldrich Rockefeller. Seorang Senat (sebutan untuk DPR-nya Amerika Serikat) yang telah menjadi Wakil Presiden. Ia masuk ke dalam gerbong yang telah di pesan sebelumnya. Bersamanya ada, Asisten Menteri Keuangan AS bernama Abraham Piatt Andrew; Presiden The National City Bank of New York, sebuah Bank yang paling kuat saat itu di AS, Frank A. Vanderlip, mewakili William Rockefeller dan The International Investment Banking House of Kuhn, Loeb & Company; Henry P. Davidson, mitra senior dari JP. Morgan Company; Charles D. Norton, kepala dari JP. Morgan’s First National Bank of New York; Benjamin Strong kepala dari JP. Morgan’s Bankers Trust Company dan Paul M. Warburg, seorang mitra dari Kuhn, Loeb & Company, yang juga menjabat sebagai wakil dari dinasti perbankan Rothschild di Inggris dan Perancis.

Melalui keretaapi ini, mereka akan menuju ke sebuah pulau kecil milik JP. Morgan, ayah mertuanya pengusaha sukses Yahudi, John D. Rockefeller, bernama Jekyll Island (Pulau Dajjal). Meski pulau ini sering dijadikan sebagai tempat istirahat dan berburu bebek, namun, bukan itu tujuan para pengusaha ini ke pulau ini.

Sederhana saja, tujuan datang ke sini sebenarnya adalah untuk membuat sebuah kesepakatan dalam struktur dan operasional sebuah kartel perbankan. Tujuan dari kartel itu, seperti kartel-kartel lainnya, adalah untuk memaksimumkan keuntungan-keuntungan dan meminimumkan persaingan di antara para anggotanya, mempersulit pesaing-pesaing baru memasuki bidang perbankan ini, dan memanfaatkan kekuasaan pengawasan dari pemerintah untuk memperkuat kesepakatan kartel itu. Dalam pengertian yang lebih spesifik, tujuan serta produk sebenarnya dari pertemuan itu adalah untuk menyusun cetak-biru (blueprint) pendirian The Federal Reserve,” tulis Edward Griffin dalam bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul “Monster dari Jekyll Island: Sebuah studi mendalam tentang The Federal Reserve.”

The Federal Reserve atau The Fed sendiri orang lazim mengenalnya sebagai sebuah Bank miliknya AS. Hal ini disebabkan nama ini muncul pada mata uang AS, Dollar. Padahal The Fed sendiri berada di luar pemerintahaan AS. Lugasnya, The Fed bukan bank sentral milik AS, melainkan sebuah bank swasta di AS. Bisa di bilang hanya 10% sahamnya di bank ini. The Fed juga yang mengatur seluruh penciptaan, penyaluran dan perputaran uang di seluruh dunia, termasuk Indonesia melalui Bank Indonesia (BI). Sistem kerja The Fed juga terbilang kotor, ia bisa memutuskan setiap kontrak tanpa terkena sangsi dari pemerintah AS sendiri. Kenapa bisa begitu? Ya, sistemnya memang telah di desain seperti itu.

Kebanyakan  masyarakat AS menganggap bahwa lahirnya The Fed adalah untuk menstabilkan ekonomi negerinya yang dilanda oleh krisis keuangan. Padahal sejatinya The Fed bukanlah diciptakan untuk itu. Pemerintah AS sendiri sempat memiliki hutang kepada The Fed sehingga AS sendiri harus membuat income tax atau pajak penghasilan.

Mengenai hal ini Prof Richard Claporth mengatakan dalam sebuah makalahnya tentang perekonomian AS, “Income tax dimulai tahun 1913, pada saat yang sama The Federal Reserve didirikan. Seluruh income tax yang terkumpul dibayarkan ke Federal Reserve sebagai bunga atas pinjaman.” (Rizki Ridyasmara, Knights Templar Knights of Christ, Pustaka Al-Kautsar, hal. 288).

Demi melunasi hutangnya, Presiden AS Roosevelt sampai-sampai harus mereorganisasi pemerintahan AS dengan menjadikannya perusahaan, namun alih-alih ingin menyelamatkan perekonomian AS, malah AS yang telah menjadi perusahaan, bangkrut. Kebangkrutan ini secara langsung menyebabkan SELURUH AS dikuasai oleh The Federal Reserve, termasuk warganegaranya dan aset-asetnya. Tentang hal ini, memang sepertinya, sampai saat ini pemerintah AS masih menutupnya rapat-rapat. Henry Ford sendiri sempat berseloroh, “Barangkali ada bagusnya rakyat Amerika tidak mengetahui asal-usul uang, karena jika mereka mengetahuinya, saya yakin esok akan timbul revolusi.” (Rizki Ridyasmara, Knights Templar Knights of Christ, Pustaka Al-Kautsar, hal. 291).

The Fed juga disebut-sebut sebagai dalang dibalik Perjanjian Bretton Woods yang menghapus penggunaan emas sebagai basis pertukaran uang. “Tujuan dari metoda itu adalah untuk mengakhiri pertukaran emas sebagai basis pertukaraan matauang internasional dan digantikan dengan standar kertas yang dapat dimanipulasi secara politik,” ungkap Edward Griffin.

Selain itu, lanjut Griffin dari konferensi di Bretton Woods, New Hampshire, AS, lahirlah Internasional Monetary Fund atau Dana Moneter Internasional (IMF) dan World Bank (Bank Dunia). Misi World Bank sendiri adalah: Our dream is a world without poverty (mimpi kita adalah dunia tanpa kemilikan pribadi).” (Nando Baskara, “Mafia” Bisnis Yahudi, Penerbit Narasi, hal. 84). Kedua lembaga inilah yang menyebabkan Indonesia terjebak dalam krisis moneter tahun 1997.

Krisis moneter ini sendiri berawal dari diborongnya Dolar oleh pialang Yahudi, George Soros. Ia sendiri sempat menanamkan sahamnya ke Aceh pada 2008 lalu. Meskipun akhirnya ia kembali membatalkannya sendiri.

Dan tujuan IMF sendiri, seperti yang tertera dalam Article of agreement-nya, seperti yang dijelaskan oleh Muhaimin Iqbal dalam salah satu artikelnya, menyebutkan bahwa setidaknya dengan adanya pasal-pasal tersebut, maka, seluruh sistem moneter yang dipakai oleh 185 negara anggota IMF tersebut sama, baik pemakaian uang kertas yang nilai intrinsiknya tidak sesuai maupun sistem riba (bunga). Nando Baskara mengatakan, meskipun kedua lembaga ini mempunyai misi yang berbeda tapi pada hakikatnya bermain pada area yang sama, yakni, menjadikan negara-negara yang berdaulat sebagai daerah jajahan mereka.

Sebenarnya IMF sempat mati namun entah kenapa pada 18 Desember 1971, IMF dihidupkan lagi oleh AS lewat perjanjian Smithsonian Agreement di sebuah institut bernama sama dengan nama perjanjian ini. Inilah salah satu alasan kenapa IMF harus dibubarkan. Untuk lebih memuluskan usaha mereka ini, maka pada 15 Agustus 1971, Presiden AS Richard S Nixon mengumumkan kalau Dolar AS tidak akan lagi ditopang lagi dengan emas (Monster dari Jekyll Island, hal. 129).

Bahkan, pada tahun 1934 Presiden AS Franklin D Roosevelt pernah mengeluarkan perintah kalau ada masyarakat AS yang masih menyimpan emas maka pemerintah harus menyitanya karena memiliki emas adalah ilegal. Kemudian, setelah perintah itu dikeluarkan maka berbondong-bondonglah masyarakat AS, yang taat hukum itu menukar emas mereka dengan sertifikat (bond) yang bertuliskan I.O.U yang ditandatangani oleh Menteri Keuangan AS, Morgenthau. Meskipun sempat bertahan lama, namun pada 1976, saat James E Carter menjabat sebagai Presiden AS, aturan tersebut dicabut (Knights Templar Knights of Christ, hal. 290).

Dalam hal ini, memang hutang menjadi alat paling tepat untuk menguasai sebuah Negara. Protokol ke-20 dari Protokol Zionis sendiri menyebutkan, “Kita harus berusaha agar hutang luar negeri suatu negara seakan-akan merupakan bantuan dalam negeri, agar kekayaan yang berhutang akan terus mengalir kedalam pembendaharaan kita. Akal hewan bangsa-bangsa non-Yahudi tidak akan mengerti bahwa hutang kepada Negara Kapitalis akan menguras kekayaannya sendiri. Sebab bunga hutang yang selalu tercipta, akan diambil dari hasil bumi negaranya, atau masukan dari sumber hutang lainnya. Kita akan membuat pemerintah yang berhutang agar terus membutuhkan bantuan dari bank-bank kita, sehingga pemerintah tersebut akan tergenggam dalam genggaman kita.” (Pengantar Penerbit, Monster dari Jekyll Island, hal. V).

Begitulah. Kini cengkeraman kaum ekonom globalis ini telah berhasil menguasai salah satu alat vital pemerintahan dunia, yaitu ekonomi. Lantas, masihkah kita berdiam diri saat melihat semua hal ini (hasil kerja mereka)? (mugiwara no nakama)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s