KENAPA MASIH MENDUKUNG OBAMA

Oleh Mugiwara no Nakama

Barack Hussein Obama adalah orang yang kini menjabat sebagai orang nomor satu di dunia ini. Selain itu Obama juga disebut-sebut sebagai orang yang membawa perubahan besar dalam melaksanakan program-program politik luar negeri AS. Khususnya dalam hubungannya dengan umat Islam dunia. Memang dalam salah satu pidatonya Obama pernah berkata kalau ia akan menjalin kembali hubungan baik dengan kaum muslimin, yang sempat hancur karena ulah pendahulunya George W Bush. Sampai untuk hal itu, ia mengatakan akan menarik pulang para tentaranya di Irak.  Hal ini diucapkannnya pada saat ia baru mencalonkan diri menjadi Presiden AS yang ke empatpuluh empat (44). Lalu, untuk menarik simpati umat muslim dunia, umumnya dan khususnya di Mesir, ia mencatut beberapa ayat Al-Quran untuk melegitimasi pernyataannya tersebut. Kemudian pada tahun lalu, ia sempat memperoleh nobel perdamaian.

Lantas, apakah hal-hal tersebut bisa dijadikan tolak ukur bahwa seorang Obama yang menjadi presiden AS bisa melunak seratus persen atas kebijakannya terhadap kaum muslimin? Nyatanya tidak. Obama tetaplah seperti presiden AS yang biasanya. Yang menerima dan menjalankan kebijakannya tidak melenceng seperti yang telah digariskan oleh para pejabat-pejabat Zionis Yahudi (baik yang bekerja di pemerintahan AS maupun yang diluar) maupun para pejabat-pejabat AS yang sangat mendukung Zionis-Yahudi. Paling yang berubah yaitu nama presiden AS yang menggunakan nama “Arab” dinamanya, yaitu Barack “HUSSEIN” Obama.

Secara garis besar, Obama tetaplah Obama. Seorang presiden dari sebuah negara penjajah, yang telah terbukti membantai ribuan bahkan puluhan ribu umat Islam yang tidak berdosa, bahkan tidak dapat disanksikan kalau umat agama lain terkena imbasnya atas setiap Negara yang telah di invasi oleh Negara AS. Seperti yang pernah terjadi pada rezim Bush. Yaitu, dihancurkannya sebuah gereja oleh tentara Israel di Palestina, Gereja Navity. Namun, seperti yang telah diketahui oleh kita, kalau hal itu bisa jadi ditutupi oleh media-media mainstream yang telah dikuasai oleh Zionis. Bahkan, bukannya memulangkan ribuan tentaranya ke AS, seperti yang pernah dijanjikannya, ia malah mengirimkan tentara-tentaranya yang berada di Irak itu ke Afghanistan bahkan menambahkannya menjadi tigapuluh ribu (30.000) tentara!

Selain itu, meskipun ia telah berjanji menutup penjara-penjara sadis seperti Guantanamo, namun, janji tinggallah janji, Obama hingga saat ini belum menutup penjara sadis tersebut. Kemudian, Obama masih setia terhadap Zionis Israel, yang telah merampas tanah Palestina dengan tumbal beribu-ribu jiwa kaum muslimin tidak berdosa dan jika pun ia setuju tanah itu untuk umat Islam, itu pun harus dibagi setengah-setengah, dan untuk rakyat Palestina hanyalah dengan luas yang sangat kecil. Sebagai informasi tambahan, untuk menciptakan sebuah The Great Israel (Israel Raya), Israel dengan angkuhnya ingin mencaplok semua tanah Arab, juga termasuk di dalamnya Arab Saudi. Namun entah untuk pengelabuan batas-batas wilayah negeri penjajah tersebut mulai menyusut, yaitu sebagian Mesir, sebagian Arab Saudi, Irak, Syiria, Turki dan seluruh Lebanon, Yordania dan tentu saja Palestina (Rizki Ridyasmara;2006).

Lalu, Obama tidak pernah berani mengecam sama sekali Israel saat entitas Yahudi itu membantai lebih kurang 1300 kaum Muslimin di Gaza, beberapa waktu lalu. Bahkan, ia mendukung penuh negeri penjajah tersebut. “Amerika berpegang teguh pada keamanan Israel. Dan kita akan terus mendukung hak Israel untuk mempertahankan diri melawan ancaman yang sah,” ujarnya seperti dikutip dari Media Umat (18/02/10). Ia pun dengan sukarela akan menambahkan dan memberikan bantuan luar negeri AS untuk negeri penjajah tersebut. Dana yang rencananya akan diberikan kepada Israel itu sebesar US$ 33 milyar.

Dalam konteks kedatangannya ke Indonesia ini, kedatangan Obama kali ini selain untuk memperat hubungan antar negara, juga untuk mengokohkan penjajahan ekonomi lewat perusahaan-perusahaannya yang merampok kekayaan alam di Indonesia dari Aceh hingga Papua. Hal ini dibenarkan oleh John Perkins dalam bukunya “Confession of an Economic Hitman,”yang menyatakan AS tidak akan masuk sebagai pengusaha saja tapi sekaligus mengatur seluruh tataran Negara agar mereka bisa mengeruk keuntungan lebih banyak lagi dengan aman (Media Umat, 18/02/10). Selain itu, seperti pernyataan dari Hizbut Tahrir Indonesia, status Negara AS adalah Muhariban Fi’lan, karena secara langsung memerangi umat Islam. Karena itu, lanjut pernyataan tersebut, Islam mengharamkan kaum Muslim melakukan hubungan dalam bentuk apapun dengan AS, termasuk menyambut kedatangan presidennya, apalagi menjadikannya sebagai sahabat dan tamu terhormat, karena AS adalah musuh Allah SWT dan umat Islam.

Lalu jika ada statemen yang mengatakan kalau Islam membolehkan menyambut seorang tamu. Hal itu memang benar, namun, logikanya sekarang adalah, tamu yang akan datang ke tempat kita itu adalah seorang tamu yang jelas-jelas terbukti membunuh saudara Anda sendiri dan tujuan kedatangan ia ke rumah Anda adalah untuk menguasai Anda dan seluruh isi rumah Anda? Maukah Anda melayani dan memuliakannya? Orang yang sadar tentu tidak akan melakukannya.

Lantas jika sudah demikian, masihkah kita, umat Islam, masih mau mendukung bahkan menghormati kedatangan Obama ke Indonesia? Jawabannya kembali lagi ke diri masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s