TSUNAMI: BENCANA ALAM ATAU REKAYASA PADA ALAM? (Bagian III)

Berbicara antara kaitan tsunami dan konspirasi, kita akan menemukan berbagai “fakta-fakta yang mengejutkan.” Jika ketika pasca tsunami, para pakar banyak yang mengatakan jika tsunami akan kembali hadir setiap seratus tahun sekali, maka hal itu tidak serta merta benar, karena tsunami-tsunami kecil pasti akan terjadi, seperti gempa Jogja dan Cile baru-baru ini. Selain itu, banyak tesis dan penelitian yang mengatakan bahwa tsunami disebabkan oleh retakan atau pergesaran lempengan bumi. Namun jika ada sebuah “penelitian” yang menyatakan tsunami disebabkan oleh ledakan bom Hidrogen (Bom H), atau—meminjam istilah situs Akhir Zaman—disebut juga nuklir di dalam nuklir, maka hal itu adalah sangatlah “spektakuler.”

Bom H pertamakali digunakan pada masa Nazi Jerman, yang diciptakan begitu besar dan membutuhkan Cryogenics, pendingin khusus yang digunakan untuk menjaga agar cairan deuterium tetap berada dibawah 400 derajat Farenheit. Saat itu, alat pengantar yang paling ideal untuk digunakan adalah kapal selam, namun, resikonya adalah jika diserang oleh kapal selam musuh, maka bom tersebut akan meledak beserta kapal selam yang digunakan sebagai alat untuk mengantar bom tersebut.

Cara kerja bom ini sangatlah sederhana. Bom ini “menggunakan fisi (pembelahan sel) dan milyaran derajat dalam sebuah bom atom konvensional (primary) untuk memicu sebuah reaksi berantai (fusion) dalam bom lain (secondary) dalam rangka menciptakan ledakan nuklir. Tahap ketiga atau tertiary dapat ditambahkan hingga hasilnya mencapai 20 juta ton TNT!!” Seorang peneliti lain yang bernama Dr Edward Teller bahkan mengatakan bahwa “limit monster ini adalah 100 juta ton TNT!!”

Sebuah surat ini ditulis oleh Dr. Conant kepada Vannevar Bush pada tanggal 20 Oktober 1944 membuktikan jika ternyata penelitian terkait bom dahsyat ini sudah diteliti sangat lama sekali oleh para ilmuwannya Hitler. Dan Hitler tidaklah main-main terhadap hal ini. Kedahsyatan bom ini diteliti dengan melakukan perbandingan terhadap kekuatan sebuah bom atom, laksana penelitian sederhana fisika para murid disekolahnya.

Menurut Dr. James B. Conant, Presiden Universitas Harvard dan penasehat ilmiah untuk Jenderal Groves, Super Bom Amerika Serikat dengan seksama dikembangan pada tahun 1944. “Dengan menggunakan berbagai macam metoda, nampak sangat mungkin untuk mengembangkannya dalam jangka waktu enam bulan setelah bom pertama disempurnakan, dan harus memungkinkan untuk dapat ditingkatkan efisiensinya … dalam kasus ini sejumlah materi yang sama akan menghasilkan sama dengan kira-kira 24,000 ton TNT.”

Ia melanjutkan dalam suratnya tersebut bahwa, “Pengembangan lebih lanjut sepanjang alur kebijakan ini memungkinan untuk diproduksinya sebuah bom tunggal dengan jumlah materi dan efisiensinya untuk mengejar jumlah yang sama dengan beberapa ratus ribu ton TNT, atau bahkan sebanding dengan satu juta ton TNT… Semua kemungkinan-kemungkinan ini hanya terdapat dalam menyempurnakan efisiensi penggunaan unsur-unsur “25”[U235] dan “49”[Pu239]. Dengan demikian Anda akan melihat bahwa sebuah bom “super” yang patut dipertimbangkan adalah dalam penggunaannya di tengah-tengah laut tidak lagi terlepas dari reaksi nuklir lain.” ( Bush-Conant Letter on the Super Bomb, National Archives). Selain menciptakannya untuk pengembangan militernya, Hitler juga disebut-sebut ikut berpartisipasi dalam pengedaran bom berbahaya tersebut.

Pengkajian selanjutnya terhadap kedahsyatan dan perkembangan bom thermonuklir ini juga dilakukan pada sebuah konferensi di Los Alamos yang diselenggarakan dari tanggal 17 April hingga 23 April 1946. Konferensi ini dilakukan setelah usainya Perang Dunia II dan ujicoba pertama di Alaska pada tanggal 1 April 1946. Dokumen ini sendiri berasal dari penuturan salah seorang pejabat berwenang, yang dikutip dari The US Nuclear Weapons: The Secret Hystory. Berikut kutipan ringkasnya:

Sebuah pertemuan awal penting setelah masa berakhirnya perang mengulas status bom-H Super telah diadakan di Los Alamos dari tanggal 17 April s/d 23 April 1946. Mengkaji ulang hasil pekerjaan yang telah dicapai sampai saat ini dalam memproses thermonuklir, juga dipresentasikan sebuah model yang khas dari sebuah bom thermonuklir. Konferensi memusatkan perhatian terhadap kelayakan model, yang telah dipilih untuk amenability dalam kaitan teoritis ketimbang praktek-praktek rekayasa maupun efisiensi dengan digunakannya bahan fissile dan tritium. Tujuan daripada konferensi adalah untuk mempelajari kelayakan bom thermonuklir dalam prinsip, namun tidak bermaksud untuk mengusulkan rancangan senjata yang sebenarnya.

Serangkaian perhitungan yang ekstensif ENIAC mengenai salah satu pembakaran tritium dan deuterium telah selesai. Tujuan tambahan dari pertemuan adalah untuk membicarakan hasil-hasil perhitungan dan untuk memberikan penilaian ke depan dalam merealisasikannya secara pisik dari sebuah peralatan thermonuklir. Meskipun disederhanakan namun sebenarnya relatif ambisius dalam model, kesepakatan umum dicapai bahwa hasil-hasil awal untuk di dorong (disampaikan apa yang telah diketahui pada waktu itu mengenai faktor-faktor yang menyangkut radiasi pendingin serta dispersi bahan bakar) Beberapa dokumen komprehensif dibuatkan konsepnya sebagai tahapan awal dari pengembangan program thermonuklir yang akan berakhir. (Hansen, U.S. Nuclear Weapons: The Secret History , p. 45)…” ( Intl. Tsunami Info. Center)

Dari catatan yang ada, Bom H ini sempat diledakkan lima kali, yaitu pertamakali di ujicoba di Alaska pada 1 April 1946. Lalu dilanjutkan pada 1952 di lepas pantai Rusia. Kemudian diujicoba keduakalinya di Alaska pada tanggal 9 Maret 1957, di Pantai Chili Tahun 1960, lalu diujicoba kembali di Alaska pada tanggal 28 Maret 1964. Dan yang terakhir diduga diledakkan di Indonesia pada tanggal 24 Desember 2004. Hal ini sendiri masih menimbulkan kontroversi sampai sekarang. Kami pun hingga saat ini masih penasaran atas hal ini, karena seperti yang telah kami jelaskan di bagian kedua tulisan ini, bahwa, ledakan tsunami ini disebabkan oleh ledakan bom nuklir milik India. Semuanya akan kami kupas pada edisi terakhir tulisan ini. Dan semuanya sekali kembali kepada Anda untuk menilainya. Karena “penelitian” ini masih memerlukan penelitian-penelitian lanjutan untuk dapat menemukan puzzle-puzzle sebenarnya dari kasus ini. (baca tanda/mugiwara no nakama/bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s