Apakah Gelombang Mikro Membunuh Serangga, Katak, dan Burung? Dan Berikutnya Kita?

Oleh: Paul Raymond Doyon
(18 Februari 2008)
Izin untuk mempublikasikan ulang paper ini – tanpa pengubahan – diberikan oleh penulisnya
Diterjemahkan oleh JOOKUT
(Unofficial Translation)

Saya tinggal di Kunming City, Provinsi Yunnan, RRC. Provinsi Yunnan merupakan salah satu kawasan terbersih dan termurni di China – dan Kunming City juga dijuluki sebagai City of Eternal Spring karena cuaca di sini cukup menyenangkan sepanjang tahun. Namun, ia juga bisa dijuluki “The City of the Silent Spring”.
Aneh memang, kota ini tidak memiliki hama – saya betul-betul tidak melihat serangga di kota ini – kecuali nyamuk musiman atau kecoa musiman. Tak ada semut, tak ada laba-laba, tak ada kupu-kupu, tak ada lebah, tak ada lalat, tak ada ulat, dan lainnya. Saya juga tidak melihat burung – saat menatap langit, saya lihat tak ada burung yang melintas. Saat pergi tidur di malam hari, saya tidak mendengar suara jangkrik; dan saat bangun di pagi hari, saya tidak mendengar kicauan burung.
Dan dari laporan-laporan media yang saya baca di internet, fenomena mendadak hilangnya bentuk-bentuk kehidupan ini (serangga, amfibi, ikan, kelelawar, burung, dan lain-lain) terjadi di seluruh dunia. Tahun lalu, fakta adanya kematian lebah di seluruh dunia akhirnya dibahas oleh media. Katak telah sekarat selama bertahun-tahun – (walaupun pada awalnya mereka “secara misterius” muncul dengan kecacatan). Lalu, persis di awal Januari 2008, seorang jurnalis Swedia mengirimi saya sebuah laporan Canadian Broadcasting Company (CBC) tentang hilangnya puluhan juta burung di Amerika Utara – http://rawstory.com/rawreplay/?p=372.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Dan kapan kita akan melakukan sesuatu terkait hal ini? Ini sesuatu yang sangat serius. Bila semua serangga, amfibi, dan burung lenyap, berapa lama lagi sampai kita, mamalia, mulai lenyap? (Bagaimanapun, banyak dari kita mulai sakit. Kini kita punya sekitar 80 penyakit sistem imun, sesuatu yang tidak kita alami 20 tahun silam.) Albert Einstein membuat semacam prediksi bahwa ketika lebah hilang, manusia hanya akan punya sisa waktu empat tahun atau lebih.
Meski laporan CBC menyebutkan hal-hal seperti pestisida, perluasan urban, pertanian pabrik, deforestasi, dan seterusnya sebagai penyebab potensial, mereka lalai menyebutkan satu kemungkinan besar lain – Radiasi Gelombang Mikro dari Antena Ponsel (yang juga dipasang oleh CBC pada menaranya; sebuah tanda nyata hubungan menyenangkan CBC dengan industri ponsel dan barangkali merupakan alasan mengapa mereka lalai menyebutkan penyebab potensial – jika tidak probable – terakhir atas Kepunahan Burung).
Meski media lalai mengarahkan perhatian kita pada penyebab riil potensial atas situasi sangat membahayakan ini – barangkali lantaran hubungannya yang menguntungkan dan menyenangkan dengan industri mobile phone – sebuah dinas pemerintah AS memberikan perhatian lebih serius pada masalah gawat ini. Dengan bantuan US Fish and Wildlife Services (USFWS) dan arahan Albert M. Manville II, Ph.D., Senior Wildlife Biologist, Division of Migratory Bird Management, diterbitkanlah laporan berikut pada 10 Mei 2007:

“US Fish and Wildlife Services Concerns Over Potential Radiation Impacts of Cellular Communication Towers on Migratory Birds and Other Wildlife – Research Opportunities.” (www.c-a-r-e.org/pdfs/May%202007%20Washington%20DC/Manville%20DC.pdf)
Nah, Anda mungkin akan bertanya pada diri Anda, “Mengapa sebuah dinas pemerintah tertarik menyelamatkan margasatwa? Bukankah mereka juga punya hubungan menyenangkan dengan industri dan tidakkah mereka lebih konsern melindungi laba korporat?” Well, ia adalah US Fish and Wildlife Services – bukan DoD, FCC, FDA, FBI, atau CIA. (Kita hanya berharap mudah-mudahan seseorang di salah satu lembaga tersebut tidak pergi membunuh Dr. Manville.) Dr. Manvile memang terlihat konsern dengan penyelamatan margasatwa. Dan lagipula, sebagaimana dinyatakan dalam laporan tersebut:
USFWS dipercayakan oleh Kongres dan dikehendaki oleh undang-undang dan regulasi untuk mengatur dan melindungi burung migrasi (dan fauna lain [ESA]) di bawah otoritas Migratory Bird Treaty Act, Bald and Golden Eagle Protection Act, dan Endangered Species Act.
Laporan ini menginformasikan kita tentang populasi burung yang menurun secara keseluruhan (mencapai 50 juta per tahun), meningkatnya spesies burung yang terancam, dan bagaimana hal ini terkait dengan ekspansi masif komunikasi seluler dan peningkatan eksponensial jumlah menara ponsel yang menyelimuti lansekap kita. Studi istimewa dalam laporan itu adalah pensurveyan dua ladang berry di habitat yang serupa di barat Massachusetts. Di ladang yang satu, di mana tidak terdapat menara ponsel, tanda kehidupan margasatwa begitu berlimpah: contohnya burung migrasi dan burung menetap, kelelawar, mamalia kecil dan besar, dan serangga termasuk lebah. Namun di ladang satunya lagi, di mana sebuah menara ponsel berlokasi berdekatan dengan kebun berry, hampir tidak ada tanda kehidupan margasatwa: jejak, kegaduhan, bulu-bulu, dan lain-lain. Di sini berry di semak-semak tidak dimakan oleh burung dan serangga – sementara berry matang yang telah jatuh ke tanah terus tergeletak tidak dimakan binatang: kalkun, rubah, dan margasatwa lain.
Menurut sebuah laporan yang dipublikasikan pada 29 Mei 2007, berjudul “Phones & Vanishing Birds” – http://www.i-sis.org.uk/MPVB.php – oleh Institute of Science in Society (ISIS):
Burung gereja telah hilang seluruhnya dari kota-kota di Inggris sekurangnya empat tahun lalu, begitu popularitas mobile phone tumbuh. Mobile phone generasi ketiga (3G) diperkenalkan pada 2003, dan terdapat 65 juta pengguna di Inggris pada akhir 2005, lebih banyak telepon daripada manusianya. (ISIS 2007)

“US Fish and Wildlife Services Concerns Over Potential Radiation Impacts of Cellular Communication Towers on Migratory Birds and Other Wildlife – Research Opportunities.” (www.c-a-r-e.org/pdfs/May%202007%20Washington%20DC/Manville%20DC.pdf)
Nah, Anda mungkin akan bertanya pada diri Anda, “Mengapa sebuah dinas pemerintah tertarik menyelamatkan margasatwa? Bukankah mereka juga punya hubungan menyenangkan dengan industri dan tidakkah mereka lebih konsern melindungi laba korporat?” Well, ia adalah US Fish and Wildlife Services – bukan DoD, FCC, FDA, FBI, atau CIA. (Kita hanya berharap mudah-mudahan seseorang di salah satu lembaga tersebut tidak pergi membunuh Dr. Manville.) Dr. Manvile memang terlihat konsern dengan penyelamatan margasatwa. Dan lagipula, sebagaimana dinyatakan dalam laporan tersebut:
USFWS dipercayakan oleh Kongres dan dikehendaki oleh undang-undang dan regulasi untuk mengatur dan melindungi burung migrasi (dan fauna lain [ESA]) di bawah otoritas

Migratory Bird Treaty Act

Bald and Golden Eagle Protection Act, dan

Endangered Species Act
Laporan ini menginformasikan kita tentang populasi burung yang menurun secara keseluruhan (mencapai 50 juta per tahun), meningkatnya spesies burung yang terancam, dan bagaimana hal ini terkait dengan ekspansi masif komunikasi seluler dan peningkatan eksponensial jumlah menara ponsel yang menyelimuti lansekap kita. Studi istimewa dalam laporan itu adalah pensurveyan dua ladang berry di habitat yang serupa di barat Massachusetts. Di ladang yang satu, di mana tidak terdapat menara ponsel, tanda kehidupan margasatwa begitu berlimpah: contohnya burung migrasi dan burung menetap, kelelawar, mamalia kecil dan besar, dan serangga termasuk lebah. Namun di ladang satunya lagi, di mana sebuah menara ponsel berlokasi berdekatan dengan kebun berry, hampir tidak ada tanda kehidupan margasatwa: jejak, kegaduhan, bulu-bulu, dan lain-lain. Di sini berry di semak-semak tidak dimakan oleh burung dan serangga – sementara berry matang yang telah jatuh ke tanah terus tergeletak tidak dimakan binatang: kalkun, rubah, dan margasatwa lain.
Menurut sebuah laporan yang dipublikasikan pada 29 Mei 2007, berjudul “Phones & Vanishing Birds” – http://www.i-sis.org.uk/MPVB.php – oleh Institute of Science in Society (ISIS):
Burung gereja telah hilang seluruhnya dari kota-kota di Inggris sekurangnya empat tahun lalu, begitu popularitas mobile phone tumbuh. Mobile phone generasi ketiga (3G) diperkenalkan pada 2003, dan terdapat 65 juta pengguna di Inggris pada akhir 2005, lebih banyak telepon daripada manusianya. (ISIS 2007)

Di Inggris, di mana level radiasi yang diperbolehkan 20 kali lebih tinggi daripada di Spanyol, telah terjadi penurunan jumlah beberapa spesies burung urban, bertepatan dengan penambahan instalasi tiang mobile phone. (ISIS 2007)
Burung (dan serangga dan binatang kecil lain) secara alami merupakan yang pertama yang tak pelak lagi terpengaruh oleh peningkatan radiasi lingkungan ini karena mereka mempunyai tubuh lebih kecil dan lebih sedikit daging untuk dipenetrasi oleh paparan gelombang mikro.
Burung merupakan kandidat bagus sebagai indikator biologis untuk radiasi elektromagnetik (EMR) low-intensity; tengkorak mereka tipis, bulu-bulu mereka bisa bertindak sebagai reseptor dielektris radiasi gelombang mikro, banyak spesies menggunakan navigasi magnetik, mereka sangat mobile dan tidak ada kemungkinan efek psikosomatis, sebagaimana dijelaskan Everaert dan Bauwens. (ISIS 2007)
Terakhir, embrio ayam yang terpapar radiasi gelombang mikro dari ponsel menunjukkan kecacatan dan kemungkinan kematian.
Faktor penting lain adalah bahwa embrio ayam yang dikenai radiasi ponsel di laboratorium mengalami kemungkinan kematian lebih tinggi daripada yang tidak terpapar. Beberapa tahun silam, periset-periset di Rusia memperlihatkkan bahwa paparan terus-menerus terhadap embrio ayam selama 21 hari perkembangan embrio mengakibatkan 75 persen embrio mati, dibanding 16 persen dalam pengawasan. (ISIS 2007)
Bukti-bukti terus bertumpuk seiring semakin banyaknya studi yang menunjukkan bahwa radiasi gelombang mikro ini betul-betul membunuh secara tersembunyi – tak hanya diri kita tapi juga – burung, amfibi, dan serangga kita yang bernilai. Banyak studi seksama berkenaan dengan kerusakan burung, binatang, dan tumbuhan oleh radiasi gelombang mikro yang bisa ditemukan di website Joris Everaert (seorang biolog, ekolog, dan fotografer): http://www.livingplanet.be
Sebuah email dari Dr. George Carlo1 pada 1 Janurai 2008 berkenaan dengan burung-burung itu, mengatakan berikut:
Paul yang terhormat:
“Canaries in the Coal Mine” tentu saja merupakan konsep yang sedang beroperasi. Tapi ia sedikit lebih rumit daripada contoh di masa lalu, dan di dalamnya terdapat resiko melalaikan kebenaran.
Apa yang kami temukan dalam penelitian kami terhadap anak-anak autis, penderita electrohypersensitive, dan pasien kami lainnya dengan kondisi terkait membrane-hypersensitivity adalah bahwa kemampuan orang-orang tersebut – atau spesies – untuk menghadapi penyimpangan lingkungan menjadi sangat lemah. EMR [radiasi elektromagnetik] kemungkinan besar merupakan
1 Dr. George Carlo, Ph.D, M.S., J.D. – seorang pakar kesehatan publik, epidemiolog, pengacara, dan pendiri Science and Public Policy Institute – mengepalai program riset seharga $28,5 juta yang didanai oleh industri mobile phone antara tahun 1993 sampai 1999.

sinergen dalam kasus-kasus ini, termasuk kasus menghilangnya burung-burung. Paparan-paparan seperti pestisida, chemtrail, penuaian hutan, dan perluasan urban bukanlah penyebab yang sebanding dengan EMR – mereka adalah penyebab aditif dan sinergistik. Mereka adalah penyimpangan sistem yang membutuhkan kompensasi biologis keras untuk diatasi. EMR menghabiskan kemampuan untuk mengkompensasi tersebut, dan akibatnya orang-orang – atau spesies – mengalah pada efek-efek penyimpangan lingkungan secara lebih parah dan lebih cepat.
Menurut saya, ini adalah persoalan perspektif. Ada sejumlah ‘pembilang tidak’ yang hanya mengajak kita melihat penyebab-penyebab penyakit dan bencana lain dari satu dimensi. Ini sudah pasti merupakan taktik yang kini didukung oleh industri mobile phone dan perangkat listrik – seperti taktik ‘umpan dan cambuk’ yang digunakan para pesulap. Kebenaran itu ada, tapi mereka memfokuskan perhatian Anda pada sesuatu yang lain sehingga kebenaran itu terselubungi dan tidak terlihat. Masalahnya adalah ‘umpan’ dan penyebab lain adalah ‘cambuk’.
Secara epidemiologis, ketika seseorang hanya melihat satu faktor etiologis pada satu waktu, aspek-aspek aditif dan sinergistik tenggelam dalam kesimpang-siuran. Kita sekarang tahu bahwa untuk hampir setiap penyakit yang menimpa manusia, terdapat kombinasi faktor-faktor yang membawa pada kematian – atau kompensasi kesehatan. Faktor-faktor tersebut adalah campuran genetik, epigenetik, lingkungan, dan nasib sederhana – baik dan buruk. Tatkala kemampuan organisme atau ekosistem untuk mengkompensasi terlampaui oleh dampak kerusakan itu sendiri, timbullah penyakit, disrupsi, dan adakalanya kepunahan. Beginilah itu terjadi.
Tak diragukan lagi sains mendukung hipotesis bahwa ledakan paparan EMR dalam ekosistem ini berdampak lenyapnya burung-burung. Berdasarkan mekanisme kerusakan yang kita ketahui tengah berjalan, dampaknya kemungkinan besar mencakup kemampuan bernavigasi dan bergerombol lantaran disrupsi EMR terhadap magnet dan fisiologi grid magnetik, kompromi imunitas, disrupsi neurofisiologis yang berakibat ketidakmampuan beradaptasi, serta dampak-dampak tak langsung terhadap cadangan makanan spesies dan keperluan bertahan hidup lainnya.
George
———————-
Dr. George Carlo
Safe Wireless Initiative
Washington, D.C.
Akhirnya, dengan pengetahuan bahwa EMR memperlemah sistem imunitas burung, tidaklah sulit untuk memahami bahwa fenomena flu burung mungkin merupakan efek dari melemahnya sistem imunitas, dan infeksi virus sebagai penyebab sekunder.2
2 Lihat “Bird Flu and Microwaves: Are We Killing Birds with Radiation?” http://www.newmediaexplorer.org/sepp/2007/05/29/bird_flu_and_microwaves_are_we_killing_birds_with_radiation.htm

Dengan demikian, sudah jelas bahwa radiasi ini memang berdampak negatif terhadap kehidupan di planet ini – dan bahwa betul-betul terdapat upaya bersama untuk merahasiakan pengetahuan ini dari publik.
Selama kira-kira setahun belakangan, media telah menutup-nutupi lenyapnya lebah di seantero dunia, yang kemudian dikenal sebagai Colony Collapse Disorder (CCD). Semula, kemungkinan bahwa penyebabnya adalah gelombang mikro cukup menimbulkan kegemparan di media; namun, di suatu titik, media tiba-tiba berhenti melanjutkan cerita ini.
Pada 20 Januari 2006, Daily Telegraph (Inggris) menampilkan sebuah artikel berjudul “Honeybees might be wiped out in 10 years”. Dalam artikel tersebut mereka menyatakan bahwa “lebah madu di Inggris akan habis sama sekali dalam satu dekade seiring menyebarnya penyakit dan parasit mematikan di seluruh sarang lebah di negeri ini, para ahli memperingatkan.” Artikel tersebut tidak menyebutkan apapun tentang gelombang mikro dari menara ponsel – dan tak ada pertimbangan mengenai fakta bahwa gelombang mikro kemungkinan memperlemah sistem imunitas lebah (dan memang terbukti bahwa gelombang mikro memperlemah sistem imunitas), yang pada kenyataannya “penyakit dan parasit mematikan” justru merupakan “Infeksi Menguntungkan”, sementara gelombang mikro adalah “Penyebab Pokok”. Lebah dan serangga lain, burung, dan amfibi telah bertahan hidup dan mengembangkan sistem imunitas kompleks di planet ini lebih dari jutaan tahun. Nah, mengapa mereka kini tiba-tiba habis gara-gara “penyakit dan parasit mematikan” – kecuali kalau, tentu saja, terdapat faktor lain yang sedang masuk ke lingkungan mereka – faktor buatan manusia yang mendisrupsi sistem imunitas mereka, sebuah faktor yang – karena alasan ekonomis – tidak diketahui publik.
Dalam korespondensi lain – kali ini dengan Carol H. dari Amherst, MA, pada Juni 2007 – Dr. Carlo memberikan lebih banyak keterangan mengenai pernyataan-pernyataan menggelikan yang dibuat di media:
Dr. Carlo yang terhormat:
Baru-baru ini saya membaca di Salon.com bahwa teori yang menyatakan bahwa lebah-lebah menghilang lantaran paparan EMR tidak ditopang oleh sains manapun. Dalam acara Good Morning America, Anda mendukung teori itu. Lantas siapa yang benar?
Carol H.
Amherst, MA
Carol yang terhormat:
Sayangnya, kondisi tentang lebah merupakan episode buku permainan yang sepanjang waktu kita hadapi dari industri mobile-phone. Saat cerita lebah pertama kali menyeruak, itu didasarkan pada sebuah studi di Jerman yang menunjukkan bahwa information-carrying radio waves mendisrupsi kemampuan lebah untuk kembali ke sarangnya. Penelitian tersebut dipublikasikan sekitar dua bulan silam. Ada juga data lain untuk mendukung hal itu. Anda dapat melihat beberapa di antaranya di website SWI kami – terutama lihat artikel yang luar biasa mendalam karangan Milt Bowling.

Media berita mengalir dengan cerita tersebut, banyak menyokong melalui kutipan yang diatributkan pada Albert Einstein semacam berikut: “Perhatikan lebah-lebah! Bilamana mereka menghilang, manusia akan turut menghilang dalam waktu empat tahun kemudian.” Industri mobile phone tak disangka-sangka tertular oleh perhatian luas media yang dikumpulkan dalam cerita ini.
Setelah berita pertama beredar, ’regu penembak’ suruhan industri mobile-phone beraksi. Pertama-tama, mereka memasang cerita yang melemparkan keraguan terhadap perkataan Einstein itu. Tak pernah sebelumnya saya melihat upaya sedemikian nekat untuk menjauhkan perkataan figur seterhormat Albert Einstein. Dalam proses tersebut, nama dia dinodai – sangat menyedihkan. Kemudian, mereka mengerahkan ilmuwan dari sejumlah universitas untuk mulai go-public dengan penjelasan lain…virus, bakteri, pestisida, dan lain-lain, dan lain-lain. Alternatif-alternatif ini beredar lebih dari sebulan belakangan. Industri mobile phone memasukkan cukup uang ke dalam dompet para ilmuwan ini dengan mendukung penelitian mereka tentang virus dan penjelasan-penjelasan alternatif. Industri menghadapinya sebagai persoalan politik dan public relation – jadi, manipulasi persepsi publik adalah obat yang cocok menurut mereka. Sangat disayangkan, ini hal biasa bagi industri mobile phone.
Sebagian besar masyarakat tidak mengetahui cerita di baliknya tersebut, sehingga tidak melihat manipulasi yang muncul atau tidak mempunyai landasan penting skeptisme untuk memahaminya. Tapi berikut ini adalah garis pokoknya:

  • Colony Collapse Disorder telah terjadi secara bersamaan di empat benua dalam jangka waktu yang sangat singkat. Jika alasannya adalah bersifat biologis atau kimiawi, seharusnya terdapat pola penyebaran epidemi – kita akan bisa menelusuri penyebaran lenyapnya lebah atau Colony Collapse Disorder dari sebuah sumber yang serupa dengan penyebaran SARS beberapa tahun silam. Kenyataannya tidak demikian. Kondisi ini melanda tiap-tiap benua pada waktu yang hampir bersamaan. Itu artinya penyebabnya pasti menyerang benua-benua tersebut pada waktu yang bersamaan pula. Mobile phone memenuhi kriteria ini.
  • Tak ada hipotesis biologi ataupun kimia yang betul-betul mempunyai penjelasan mekanis yang dapat diterima. Bukti untuk alternatif biologi atau kimia jauh lebih lemah daripada bukti yang mendukung keterkaitan EMR. Maling teriak maling.
  • Hipotesis disrupsi komunikasi antarsel yang sekarang kita ketahui mempengaruhi membran sel pada kebanyakan spesies adalah masuk akal secara biologi – dan tak ada teori lain yang punya dukungan seperti itu.
  • Basis mekanisme biologis, serangkai dengan pemenuhan information carrying radio waves yang kita alami secara global dalam 14 bulan belakangan, menjadi tiang penyokong. Pada 2004, untuk pertama kalinya pengguna ponsel mencapai angka semiliar secara global, akumulasi lebih dari 20 tahun; pada pertengahan 2006, penggunanya mencapai dua miliar; hari ini kita telah melampaui angka tiga miliar. Itu menunjukkan kita sudah dekat dengan batas pemenuhan gelombang-gelombang ini di lingkungan sekitar. Lebah sepertinya merupakan alamat atau peribahasa “canaries in the coal mine” (tanda bahaya-penj).
  • Secara keseluruhan, EMR adalah satu-satunya penjelasan masuk akal berkenaan dengan lenyapnya lebah: waktunya tepat – masalah ini terjadi terutama dalam dua tahun belakangan, ketika kita telah hampir melipat-tigakan level information carying radio waves latar. Polanya bersifat global sehingga menunjukkan bahwa penyebabnya hadir secara global – setidaknya ada satu studi seksama yang mendukungnya, dan ada dokumentasi mekanisme yang memberi kemungkinan biologis.

Dalam pandangan kita, ini adalah ‘peringatan’ resiko serius yang mesti diperhatikan. Juga merupakan contoh lain orkestra industri mobile phone untuk mengalihkan perhatian publik dari data yang dapat menyelamatkan nyawa.
—————————————————
Dr. George L. Carlo
Science and Public Policy Institute
1101 Pennsylvania Ave. NW – Lantai 7
Washington DC 20004
http://www.sppionline.org
202-756-7744
Pada Maret 2004, tiga tahun sebelum media di seluruh dunia mengangkat cerita lebah tersebut, sebuah surat kabar Jerman menampilkan artikel berjudul “Protecting Bees from Mobile Phone Radiation”, yang tentu saja memberi keterangan lebih jauh terkait isu ini (www.laleva.org/eng/2007/04/protecting_bees_from_mobile_phone_radiation.html).
Dalam artikel tersebut dikatakan
Selama ini sebuah truk usang telah menjadi domisili tujuh sarang lebah. Siegfried Vogel (dalam gambar) kehilangan empat koloni lebahnya dalam setahun belakangan – yaitu yang terletak di balik pelindung kayu di truknya. Puteranya, Reinhold, lebih beruntung: dia masih memiliki tiga koloni lebahnya, yang terletak di balik dan terlindungi oleh bagian pelindung aluminium di truk yang sama. Karena itu, Siegfried Vogel sekarang menganjurkan semua peternak lebah untuk melindungi koloni lebah mereka dari radiasi mobile phone dengan pelindung aluminium.

Meski semua lelucon tentang topi aluminium di luar sana mencoba mempermainkan dan meremehkan peningkatan drastis pengidap electrosensitivity (ES), fakta bahwa aluminium betul-betul menangkis radiasi gelombang mikro sudah diketahui luas – bila Anda tak percaya, coba bungkus ponsel Anda dalam aluminium foil (tak ada yang bisa menghubungi Anda) atau taruh aluminium foil dalam oven microwave. Dengan demikian, ini adalah kepingan bukti kuat lain yang mendemonstrasikan bahwa memang radiasi gelombang mikro-lah yang membunuh lebah.
Dr. Gerald Goldberg (penulis “Would You Put Your Head in a Microwave Oven?”) menawarkan klarifikasi lebih jauh dalam paper-nya, “To Bee or not to Bee?” (30 Oktober 2007), mengenai alasan mengapa ponsel membunuh lebah (www.rense.com/general78/cdan.htm)
Penjelasan potensial lainnya adalah parasit atau virus. Memang sebelumnya tercatat peristiwa lolosnya parasit-parasit, tapi tidak pada skala global. Yang juga tertolak adalah virus umum, apapun alasannya. Banyak pula binatang yang menjadi beracun karena electromotive force, di mana efek yang ditonjolkan oleh logam berat dan toksin memperlihatkan kerusakan imunitas seiring munculnya organisme patogenik (menyebabkan penyakit-penj), seperti parasit, fungi, bakteri, atau virus. Organisme-organisme yang ditemukan tersebut adalah khas pada spesies yang terserang tapi mungkin hanya mengindikasikan tekanan imunitas.
Hubungan umum apa yang bisa menjelaskan epidemi global yang terjadi pada waktu yang sama dan sama-sama mempengaruhi populasi lebah, tanpa mempertimbangkan pestisida atau hama yang mungkin memapar mereka? Satu hubungan umum yang sangat mungkin adalah disrupsi elektromagnetik yang tengah terjadi saat ini dan disebabkan oleh penggunaan teknologi gelombang mikro secara pandang bulu dan tak pandang bulu. Teknologi pokoknya adalah jaringan elektromagnetik global yang diproduksi untuk telekomunikasi. (Goldberg 2007)
Dan,
Penyakit atau pestisida akan menyebabkan kematian bertahap dan lebah-lebah yang mati akan ditemukan dalam sarang. Dengan CCS, tak satupun lebah ditemukan dalam sarangnya. Interferensi gelombang mikro adalah satu-satunya cara masuk akal untuk menjelaskan mengapa fenomena ini teramati pada saat ini. Ia juga menjelaskan mengapa ini terjadi secara serempak dan global. (Goldberg 2007)
Dan,
Sebagaimana pada lebah, efek yang sama juga teramati pada manusia, perhatikan peningkatan [kasus] autisme, gangguan daya ingat, dan kelainan terkait lainnya. Perubahan lingkungan kita secara global tanpa memandang batasan [kemampuan] biologi kita akan memberikan efek-efek mendalam untuk semua kehidupan di planet ini. Ini adalah persoalan urgen dan mendesak yang menyangkut semua orang [penebalan ditambahkan]. (Goldberg 2007)

Sementara perhatian tengah tertuju kepada lebah, riset lain mengindikasikan efek terhadap jenis serangga lainnya, (barangkali juga merupakan alasan mengapa mereka kurang terlihat – dan masih harus diberitahukan kepada umum).
Dalam sebuah paper berjudul “Effects of Different Kinds of EMFs on the Offspring Production of Insects”, Panagopoulos & Margaritis menemukan (1) penurunan drastis kapasitas reproduksi lalat buah – hingga 60% – seiring paparan medan GSM (Global Systems for Telecommunications) digital, dan (2) perubahan signifikan kapasitas reproduksi seiring paparan bentuk lain radiasi elektris dan magnetik. Panagopoulos & Margaritis memapar lalat buah dengan radiasi ponsel hanya selama enam menit sehari untuk empat sampai lima hari dan kemudian menyimpulkan bahwa:
Hasil dari eksperimen tambahan kami, dengan protokol eksperimen berbeda-beda, menunjukkan bahwa: 1) EMF mempengaruhi kapasitas reproduksi baik serangga betina maupun jantan… (hal. 449)
Dan ini terutama terkait dengan GSM – kini digunakan secara luas di seluruh dunia.
Hasil eksperimen kami menunjukkan secara jelas bahwa radiasi elektromagnetik RF, dan terutama radiasi ponsel GSM pada frekuensi 900MHz, adalah sangat bioaktif, menyebabkan perubahan signifikan pada fungsi fisiologis organisme hidup. Hasil [penelitian] kami mengimplikasikan perlunya menghindari paparan radiasi ini secara hati-hati dan memakai ponsel secara sangat bijaksana. (hal. 449)
Setidaknya demikian!
Sebagaimana hasil eksperimen kami, EMF buatan manusia dapat mempengaruhi kapasitas reproduksi serangga secara signifikan. Temuan kami mengimplikasikan perlunya menghindari paparan semua jenis EMF terhadap manusia.
Terutama mengenai radiasi RF pada frekuensi 900MHz, yang dipancarkan oleh ponsel GSM, hasil eksperimen kami menunjukkan bahwa radiasi ini, dengan kondisi paparan yang serupa dengan pemakaian ponsel sebagaimana biasa, adalah sangat bioaktif, menyebabkan penurunan dramatis pada kapasitas reproduksi serangga. (hal. 449)
Jadi, ini menyodorkan penjelasan atas menghilangnya serangga belakangan ini secara dramatis dari lingkungan kita.
Sudah jelas dari studi kita bahwa penggunaan penuh ponsel GSM (seperti terjadi selama percakapan “talking” normal – “speaking emission”) memiliki efek dramatis terhadap reproduksi serangga, sekalipun dengan paparan 6 menit sehari, selama 2-5 hari saja. Di sisi lain, saat ponsel digunakan dalam mode “listening” (“non-speaking emission”), efeknya kurang dramatis, tapi tetap berpengaruh. (hal 450)

Maka jika penurunan kemampuan reproduksi sebesar 60% timbul hanya setelah enam menit paparan per hari selama empat sampai lima hari, bisa kita bayangkan bagaimana efek paparan jangka panjang dan terus-menerus radiasi gelombang mikro dari pertambahan antena GSM secara global terhadap serangga – karena itu kita dapat berbicara tentang kemungkinan kepunahan mayoritas serangga di planet ini dalam waktu dekat.3
Tambahan lagi, sebuah artikel karya Balmori (2006) berjudul “The incidence of electromagnetic pollution on the amphibian decline: Is this an important piece of the puzzle” yang muncul dalam jurnal Toxicological and Environmental Chemistry sepertinya merupakan yang pertama kali menunjukkan kaitan antara radiasi gelombang mikro dan menghilangnya katak secara global.
Review bibliografis tentang kemungkinan efek radiofrequency radiation (RFR) telekomunikasi nirkabel terhadap organisme hidup dan dampaknya terhadap amfibi telah disajikan. Karakteristik teknis teknologi baru ini serta temuan-temuan ilmiah yang menaruh perhatian pada studi efeknya terhadap fauna liar dan amfibi telah diuraikan. Polusi elektromagnetik (dalam gelombang mikro dan dalam rentang frekuensi radio) adalah penyebab potensial atas kecacatan dan penurunan beberapa populasi amfibi. Ingat bahwa amfibi merupakan bio-indikator handal, adalah sangat penting untuk melaksanakan studi tentang efek-efek pencemaran tipe baru ini. Terakhir, beberapa metodologi yang mungkin berguna untuk menentukan efek merusak kesehatan telah diusulkan.
Lucunya, ketika tinggal di sebuah kawasan Jepang tanpa penerimaan [sinyal] televisi ataupun ponsel, saya secara kebetulan melihat begitu banyak katak dekat tempat saya tinggal. Setelah memutuskan untuk melakukan pemeriksaan dan bersenjatakan detektor gelombang mikro, saya terkejut tidak mampu menemukan satu katak pun di kawasan Jepang yang beradiasi gelombang mikro dan memiliki penerimaan [sinyal] ponsel.
Selain serangga, burung, dan katak, baru-baru ini juga ada laporan di media mengenai kematian dramatis dan satu persatu ikan dan kelawar di AS. Kepala sekolah sebuah SMU di Minnesota mengirimi saya sebuah paper karangan seorang pelajar SMU yang menjadi penasaran tentang efek-efek electropollution setelah bibinya sembuh dari Multiple Sclerosis (MP) menyusul pemasangan filter Graham-Stetzer (yang membuang listrik kotor) di sekolah dan rumahnya. Pelajar yang penasaran bahwa ada kemungkinan kaitan antara peningkatan kecacatan katak dan electropollution tersebut memutuskan untuk menguji aliran arus listrik dan mendapat bantuan dari Tuan Stetzer sendiri – dan ternyata mampu menemukan aliran-aliran pada level tinggi dan
3 Dalam artikel lain yang muncul di jurnal yang sama pada 30 April 2007, “Comparison of Bioactivity Between GSM 900MHz and DCS 1800MHz Mobile Telephony Radiation”, Panagopoulos dkk. menyimpulkan lebih jauh bahwa radiasi dari kedua sistem telekomunikasi yang saat ini digunakan di Eropa tersebut – GSM dan DCS (Digital Cellular Systems) – “secara signifikan dan secara non-termal” menurunkan kapasitas reproduksi lalat buah; meski GSM 900MHz, kemungkinan besar lantaran intensitas medannya yang dinaikkan, memiliki lebih banyak efek daripada DSC 1800MHz.

berbahaya, yang seharusnya tidak ada. Dengan demikian, arus-arus yang melintasi air kita ini dapat juga menjelaskan peningkatan infeksi serta lenyapnya spesies air secara dramatis yang kita jumpai di seluruh dunia.
Di New York dan Vermont baru-baru ini dilaporkan tentang kematian ribuan kelelawar akibat apa yang dijuluki “sindrome hidung putih”, untuk menerangkan lingkaran fungi putih yang muncul di sekitar hidung kelelawar-kelelawar itu.
Alan Hicks, seorang ahli kelelawar, bersama Department of Environmental Conservation New York menyebut penyakit yang menyebar cepat tersebut sebagai “ancaman paling serius” yang pernah dia jumpai terhadap kelelawar. Hingga 11.000 kelelawar ditemukan mati musim dingin lalu dan lebih banyak lagi yang memperlihatkan tanda-tanda sakit musim dingin sekarang. Dua tahun lalu sebuah gua malang memelihara lebih dari 15.000 kelelawar, namun kini menjadi 1.500 ekor, kata Alan. (Hill 2008)
Menarik untuk dicatat di sini bahwa dalam banyak penyakit modern kita (contohnya chronic fatigue immune dysfunction syndrome [CFIDS], autisme, attention deficit hyperactivity disorder [ADHD], dan lain-lain), yang muncul atau meningkat secara drastis dalam dua puluh tahun belakangan seiring kedatangan telekomunikasi nirkabel (misalnya ponsel dan WiFi), terdapat pelemahan sistem imun yang disertai dengan peningkatan patogen seperti fungi, virus, candida (fungi penyebab sariawan mulut atau tenggorokan-penj), mycoplasma (plasma fungi-penj), dan sebagainya. Senantiasa ada kemungkinan bahwa radiasi gelombang mikro ini – sambil memperlemah sistem imun kita – pada saat yang sama juga menstimulasi pertumbuhan fungi dan patogen potensial lainnya, dan telah ditunjukkan bahwa arus listrik tertentu bisa juga mempunyai efek ini pada level sel.
Berkenaan dengan manusia, ada sejumlah studi yang menunjukkan bahwa radiasi gelombang mikro memang tak terbantahkan lagi mempengaruhi kesuburan manusia. Sebagai contoh, Brossner & Kuber (2002) menemukan penurunan sperm motility (kemampuan sperma untuk bergerak secara lurus menuju targetnya) akibat paparan EMR yang dilepaskan oleh ponsel GSM. Aitken dkk. (2005) menemukan efek merusak signifikan terhadap DNA sperma seiring paparan EMR frekuensi radio. Fejes dkk. (2005) menemukan bahwa “pemakaian ponsel secara lama dapat berefek negatif terhadap karakteristik motilitas sperma”. Stefenis dkk. (2006) menegaskan bahwa “ada banyak studi binatang yang menunjukkan bahwa gelombang elektromagnetik memiliki banyak efek merusak terhadap sistem reproduksi dan parameter sperma jantan.” Tambahan pula, Erogul dkk. (2006) menemukan “bahwa EMR yang dipancarkan oleh ponsel mempengaruhi motilitas sperma manusia. Di samping efek EMR yang gawat dan merugikan terhadap motilitas sperma ini, paparan EMR jangka lama dapat menyebabkan perubahan perilaku atau struktur sel kuman jantan.” Agarwal dkk. (2007) menarik kesimpulan bahwa

Pemakaian ponsel menurunkan kualitas mani pria dengan menurunkan jumlah, motilitas, kemampuan hidup, dan morfologi normal sperma. Penurunan parameter sperma bergantung kepada durasi paparan harian ponsel dan tidak bergantung kepada kualitas mani awal.
Wdowiak dkk. (2007) menarik kesimpulan bahwa
Dalam analisis efek perangkat GSM terhadap mani, tercatat bahwa peningkatan persentase sel sperma bermorfologi abnormal terkait dengan durasi paparan gelombang yang dipancarkan oleh ponsel GSM. Dikonfirmasikan juga bahwa penurunan persentase sel sperma dalam motilitas vital pada mani berkorelasi dengan frekuensi pemakaian ponsel.
Terakhir, Yan dkk. (2007) menarik kesimpulan “bahwa membawa ponsel dekat organ reproduksi dapat mempengaruhi kesuburan pria secara negatif.”
Maka, mudah disimpulkan bahwa radiasi gelombang mikro dari ponsel dan WiFi sangat mempengaruhi kesuburan manusia, belum lagi sebagai penyebab meningkatnya kecacatan burung. Karena itu, jawaban untuk pertanyaan pada judul paper ini adalah, “Ya, kita memang mungkin menjadi korban berikutnya.”
Sebagai tambahan, terdapat peningkatan bukti – dan, akibatnya, kesadaran – yang menunjukkan bahwa radiasi ini juga bertanggung jawab atas bertambah banyaknya penyakit yang kita jumpai seiring kedatangan teknologi ini dan peningkatan EMR yang dibawanya dalam lebih dari dua puluh tahun terakhir. Sebagai contoh, pada 2002, dokter-dokter Jerman – Interdisciplinary Society of Environmental Medicine – menyatakan kerisauan mengenai teknologi nirkabel (ponsel, DECT, dan lain-lain) dalam Seruan Freiburger (kini hampir mencapai antara 37.000 sampai 40.000 penanda-tangan) setelah menemukan hubungan sebab-akibat antara “pertambahan dramatis penyakit-penyakit parah dan kronis” (contohnya kelainan perilaku, ADD, kelainan tekanan darah, serangan jantung dan stroke, brain-degenerative disease, dan kanker seperti leukemia dan tumor otak) dengan meningkatnya paparan EMR. Pada 2005, World Health Organization (WHO) secara resmi mengakui electro-sensitivity sebagai kelainan. Vienna Doctors Chamber (Wiener Arztekammer), pada 2005, setelah REFLEX Study dengan jelas menunjukkan kerusakan genetik, membuat poster-poster (dipasang di ruang-ruang tunggu rumah sakit) peringatan bahaya dan mencatatkan kaidah-kaidah untuk diikuti.

Pada Agustus 2007, sebuah laporan – diterbitkan oleh sebuah kelompok internasional ilmuwan, periset, dokter, dan ahli kesehatan publik ternama – yang berjudul BioInitiative (www.bioinitiative.org) memperingatkan Teknologi nirkabel yang mengandalkan radiasi gelombang mikro untuk mengirim email dan komunikasi suara adalah ribuan kali lebih kuat dari level yang dilaporkan untuk menimbulkan beberapa dampak kesehatan. Paparan radiasi radiofrequency dan gelombang mikro secara lama dari ponsel, telepon nirkabel, menara ponsel, WiFi, dan teknologi nirkabel lainnya telah disangkut-pautkan dengan gejala-gejala fisik yang meliputi sakit kepala, keletihan, kesulitan tidur, kepeningan, perubahan aktivitas gelombang otak, dan kelemahan konsentrasi dan daya ingat. (BioInitiative Press Release, 2007, hal. 2)
Pada September 2007, pemerintah Jerman memperingatkan warganya agar tidak menggunakan ponsel (hanya dalam keadaan darurat) dan WiFi. Pada Maret 2007, Italia melarang anak-anak membawa ponsel ke sekolah. Pada November 2007, kota Paris memutuskan untuk melarang WiFi di Perpustakaan Umum. Pada Desember 2007, seorang anggota partai Demokrat Australia mengkomisikan paper diskusi yang menemukan bahwa radiasi gelombang mikro dari menara ponsel kemungkinan besar merupakan penyebab di balik peningkatan drastis penyakit-penyakit seperti kanker, diabetes, asma, alergi, alzheimer, dan lain-lain.
Gejala-gejala yang timbul seiring pemasangan menara (tiang) ponsel atau WiFi (internet nirkabel) rumahan dan/atau sistem DECT mencakup beberapa atau semua daftar berikut:
Sakit kepala, gangguan tidur (insomnia), kepeningan, mual, jantung berdebar, nyeri jantung, masalah konsentrasi, letih, lesu, gangguan pencernaan, kulit kemerahan, perasaan geli, tingling sensation (perasaan tertusuk, tersengat, atau berdenyut-penj), gelisah, masalah daya ingat, pembengkakan tunas limpa, haus berlebihan, sering kencing, masalah penglihatan, tinnitus (telinga mendenging), peningkatan alergi/sensitivitas, dan lain-lain.
Sayangnya, sekarang ini kebanyakan orang – dan dokter – tidak mempertalikan gejala-gejala ini dengan sesuatu yang tidak bisa mereka rasakan dengan lima panca indera mereka – penglihatan, penciuman, peraba, pendengaran, atau perasa – dan justru mempertalikannya dengan sesuatu yang lain.
Sejumlah periset telah menemukan bahwa meski gejala-gejala di atas merupakan efek awal paparan radiasi yang dipancarkan menara ponsel, efek jangka panjangnya adalah peningkatan dramatis resiko kanker. Sebuah studi mutakhir (Februari 2008) oleh Dr. Gerd Oberfeld dari Austria (EMFacts 2008) menunjukkan peningkatan 23 kali lipat [resiko] kanker payudara dan 121 kali lipat [resiko] tumor otak bagi mereka yang tinggal dalam radius 200 meter dari base station ponsel selama lima tahun atau lebih. Fisikawan Inggris, John Walker Ph.D., telah meneliti kaitan antara base station ponsel dan kluster kanker selama beberapa tahun. Dia menemukan bahwa bila sebuah tiang ponsel telah berdiri selama lima tahun atau lebih, kanker akan mulai muncul di kawasan di sekitar tiang di mana emisinya paling kuat. Bila tiang telah berdiri selama hampir sepuluh tahun, maka kluster kanker4 muncul dengan nyata (GRAM 2006).
Terakhir, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi sebuah komunitas di India yang tidak mengizinkan keberadaan menara ponsel di daerah mereka yang seluas dua puluh kilometer persegi dan di mana meteran high-frequency saya mencatatkan nol pada setting paling

4 Lihat “Cancer clusters at phone masts” di http://www.timesonline.co.uk/tol/news/uk/article1687491.ece

sensitf sekalipun. Di sana, saat saya pergi tidur – dan saya tidur nyenyak – terdengar suara-suara serangga; dan saat bangun di pagi hari, terdengar suara-suara burung. Ketika mengitari daerah tersebut dengan sepeda, saya dikelilingi oleh kawanan kupu-kupu yang cantik. Saya tidak melihat atau merasakan ini di tempat lain yang saya kunjungi di India. Karena itu, saya sepenuhnya sadar bahwa sebenarnya inilah artinya menjadi kaya – merasa sehat dan dikelilingi oleh makhluk Tuhan dan hidup secara harmonis dengan alam mereka.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Kehidupan di planet ini berkembang selama lebih dari jutaan tahun dan – sekarang – tengah terancam oleh ketidaksadaran masal! Di satu sisi, kita punya industri ponsel powerful dan kaya yang tamak – dan suka menipu. Di sisi lain, kita punya masyarakat bodoh dan egois yang begitu kecanduan dengan Senjata Pemusnah Masal kecil mereka dan menolak untuk mereka lepaskan.
Kejahatan berat sedang dilakukan oleh manusia pemikul ponsel terhadap semua kehidupan di planet ini. Satu-satunya solusi nyata adalah melepaskan mainan elektromagnetik kita itu dan menuntut agar menara kematian disingkirkan, dilucuti, dan dibongkar. Bagaimanapun, entahkah ini akan betul-betul terjadi atau tidak, tergantung pada tingkat kesadaran penduduk. Jika memang tidak terjadi, maka kita akan menghadapi persoalan berat termasuk setidaknya kekurangan pangan parah. Perubahan harus dimulai dengan diri kita bila kita hendak bertanggung jawab. Hanya orang-orang tak bertanggung jawab yang berharap seseorang akan menyelamatkan mereka, atau malah menyalahkan orang lain di saat momen kritis terjadi. Kita benar-benar harus membuang perangkat sinar maut ini dan mendorong orang yang kita kenal untuk melakukan hal yang sama sampai pihak berwenang menemukan alternatif yang aman (atau lebih aman) – misalnya fiber-optics yang diusulkan baru-baru ini oleh biofisikawan Dr. Neil Cherry dan sekarang disebar-luaskan oleh Dr. George Carlo. Jika tidak, tidak perlu waktu lama lagi hingga kita mengikuti jejak burung dan lebah – dan tidak akan ada yang bisa kita persalahkan kecuali diri kita!
Dan jangan mempercayai kata-kata saya saja. Dr. Robert O. Becker, M.D. – dua kali dinominasikan untuk Hadiah Nobel, dan merupakan salah seorang pakar EMR terdepan, dan penulis buku “The Body Electric” dan “Cross Currents” – menyatakan sebagai berikut:
Saya tidak ragu lagi bahwa saat ini, unsur pencemar paling hebat di lingkungan bumi adalah perkembang-biakan medan elektromagnetik. Saya menganggap bahwa itu, pada skala global, jauh lebih hebat dari pemanasan, dan peningkatan unsur kimia di lingkungan.
Dr. Robert O. Becker, M.D.
Saat ini, di Amerika yang katanya “demokratis” itu, “Telecommunications Act 1996”5 – sebuah undang-undang AS yang inkonstitusional dan tidak demokratis6 – melarang masyarakat
5 Untuk informasi lebih lanjut, lihat “A Brief History of the Telecommunications Act of 1996: Looking Closely at Safety” karya Marjorie Lundquist, Ph.D., C.I.H.. (www.wave-guide.org/library/tca_hist.html)

untuk secara hukum menolak pembangunan menara ponsel atas alasan kesehatan atau lingkungan. Karena itu, upaya untuk melindungi padang rumput seseorang atau kesehatan lingkungan adalah melawan hukum, sebab pejabat terpilih kita merasa lebih penting untuk melindungi laba industri ponsel.
Undang-undang itu juga secara spesifik melarang pemerintah lokal dan negara bagian untuk meregulasi penempatan dan pembangunan fasilitas komunikasi, seperti antena dan menara, atas alasan efek medan elektromagnetik terhadap lingkungan apabila fasilitas tersebut memenuhi standar emisi FCC…
Undang-undang itu seolah-olah mendukung pentingnya regulasi lokal, cukup untuk mendorong litigasi, tapi tanpa pengakuan sungguh-sungguh atas pentingnya nilai tanah pemilik rumah, ketenteraman pikiran, dan, terutama sekali, soal kesehatan. Undang-undang itu memperburuk persoalan kesehatan dengan berasumsi bahwa standar FCC untuk emisi elektromagnetik akan melindungi kesehatan publik. Asumsi tersebut prematur, berdasarkan banyak riset ilmiah yang sedang berjalan mengenai subjek ini dan ketiadaan kesimpulan yang jernih. Congressional Conference Report mengindikasikan bahwa Undang-undang itu mencegah regulasi lokal dan negara bagian atas efek lingkungan emisi elektromagnetik bilamana persyaratannya melebihi aturan FCC. Pencegahan ini menghalangi negara bagian untuk melaksanakan risetnya sendiri terkait efek emisi ini terhadap kesehatan karena mereka tidak boleh bersandar pada hasil riset tersebut dalam merumuskan regulasi. Alhasil, ini merugikan publik. FCC, dalam menyebar-luaskan aturan penetapan batas kadar absorpsi emisi elektromagnetik pada angka 4 watt/kilogram, mengamati bahwa riset dalam bidang yang terkait kesehatan manusia dan keamanan ini sedang berjalan dan bahwa perubahan terhadap rekomendasi batas paparan adalah memungkinkan di masa mendatang. Dengan ketidakpastian tersebut, adalah tak masuk akal untuk membatasi upaya pemerintah lokal dan negara bagian dalam melindungi penduduknya. (Martin)
Undang-undang tidak demokratis ini sama sekali keliru secara moral – dan bukan hanya merupakan pelanggaran kentara atas hak setiap warga Amerika untuk melindungi diri mereka sendiri, tapi juga pelanggaran kentara atas undang-undang yang melindungi binatang-binatang bernilai: (1) Migratory Bird Treaty Act, (2) Bald and Golden Eagle Protection Act, dan (3) Endangered Species Act. Karenanya, atas alasan ini, undang-undang itu harus dibatalkan segera dan tanpa syarat. Bukti yang terkumpul pada titik ini (bahwa teknologi ini amat berbahaya baik bagi kehidupan manusia maupun binatang di planet ini) benar-benar berlimpah – dan ini merupakan upaya industri ponsel untuk mengendalikan pemerintah dan untuk memanipulasi sains dan media. Demi melindungi kehidupan di planet ini – tanpa menghiraukan kepentingan ekonomi apapun – menara-menara ini harus dibongkar sekarang!
6 Saya tidak memberikan suara untuk menyetujuinya. Bagaimana dengan Anda?

REFERENSI
Aitken RJ., Bennetts LE., Sawyer D., Wiklendt AM & King BV. (2005). “Impact of radio frequency electromagnetic radiation on DNA integrity in the male germline.” International Journal of Andrology. 28 (3): 171-9.
Agarwal A, Deepinder F, Sharma RK, Ranga G, Li J. (2007). “Effect of cell phone usage on semen analysis in men attending infertility clinic: an observational study”. Fertil Steril. 2007 May 3.
Aivaz M. (2007). “Tens of millions of birds disappearing across North America”. Canadian Broadcasting Corporation. http://rawstory.com/rawreplay/?p=372.
Balmori A. (2006). “The incidence of electromagnetic pollution on the amphibian decline: Is this an important piece of the puzzle?” Toxicological and Environmental Chemistry. Volume 88, Number 2/April–June. http://taylorandfrancis.metapress.com/content/v53686w44787310r/.
Carlo G. (2008). Personal Correspondence.
Carlo G. (2007). Personal Correspondence.
Davoudi M, Brossner C, Kuber W. (2002). “Der Einfluß elektromagnetischer Wellen auf die Spermienmotilität”. J. Urol. Urogynäkol, 9 (3): 18:22.
EMFacts. (2008). “#859: New Austrian study on cancer and a mobile phone base station”. emfacts.com. http://www.emfacts.com/weblog/index.php?p=859.
Erogul O, Oztas E, Yildirim I, Kir T, Aydur E, Komesli G, Irkilata HC, Irmak MK, Peker AF. (2006). “Effects of electromagnetic radiation from a cellular phone on human sperm motility: an in vitro study”. Arch Med Res. 2006, 37 (7): 840-3.
Everaert. J. Website of Joris Everaert. http://www.livingplanet.be/.
Fejes I, Za Vaczki Z, Kolosza RS, Daru J, Kova CS L, PA L A. (2005). “Is there a relationship between cell phone use and semen quality?” Arch Androl., 51 (5): 385-93.
Foggo D. (2007). “Cancer clusters at phone masts”. Times Online. April 22, 2007. http://www.timesonline.co.uk/tol/news/uk/article1687491.ece.
Goldberg G. (2007) “To Bee Or Not Too Bee?” Rense.com. http://www.rense.com/general78/cdan.htm.
Goldworth Residents Against Masts (GRAM). (2006). “Phone Masts and Cancer Clusters.” Oct. 26th 2006. nomasts.org.uk/index.php?option=com_content&task=view&id=74&Itemid=116.
Hasslberger S. (2007). “Bird Flu and Microwaves: Are we Killing Birds with Radiation?” Health Supreme. http://www.newmediaexplorer.org/sepp/2007/05/29/bird_flu_and_microwaves_are_we_killing_birds_with_radiation.htm

Hill M. (2008). “Bat Deaths in NY, Vt. Baffle Experts”. Associated Press. Jan 30, 2008.

Institute of Science in Society. (2007). “Phones & Vanishing Birds”. Institute of Science in Society (ISIS). ISIS Press Release 29/05/07. http://www.i-sis.org.uk/MPVB.php.
Laleva. (2004). “Protecting Bees From Mobile Phone Radiation”. http://www.laleva.org/eng/2007/04/protecting_bees_from_mobile_phone_radiation.html.
Lundquist M. (1996). “A Brief History of the Telecommunications Act of 1996: Looking Closely at Safety”. Wave-Guide.org. http://www.wave-guide.org/library/tca_hist.html
Manville AM. (2007). “U.S. Fish and Wildlife Service Concerns Over Potential Radiation Impacts of Cellular Communication Towers on Migratory Birds and Other Wildlife – Research Opportunities”. Division of Migratory Bird Management, U.S. Fish and Wildlife Services (USFWS).
http://www.c-a-r-e.org/pdfs/May%202007%20Washington%20DC/Manville%20DC.pdf
Martin SL. “Communications Tower Sightings: The Telecommunications Act Of 1996 and the Battle For Community Control”. The Berkeley Technology Law Journal. http://www.law.berkeley.edu/journals/btlj/articles/vol12/Martin/html/text.html.
Panagopoulos et al. (2007). “Comparison of Bioactivity Between GSM 900MHz and DCS 1800MHz Mobile Telephony Radiation”. Electromagnetic Biology and Medicine.
Panagopoulos DJ. & Margaritis LH. (2002) ”Effects of Different Kinds of EMFs on the Offspring Production of Insects”. 2nd International Workshop on Biological effects of EMFS. Rhodes (Greece): 348-452.
Stefinis P, Drakeley A, Gazvani R, Lewis-Jones DI. (2006). “Growing concern over the safety of using mobile phones and male fertility”. Arch Androl. 52 (1): 9-14.
The BioInitiative. (2007). Press Release. “Serious Public Health Concerns Raised Over Exposure to Electromagnetic Fields (EMF) from Power Lines and Cell Phones”. University of Albany: New York. August 31st, 2007. http://www.bioinitiative.org/press_release/index.htm.
Wdowiak A, Wdowiak L, Wiktor H. (2007). “Evaluation of the effect of using mobile phones on male fertility”. Ann Agric Environ Med. 14 (1): 169-72.
Yan JG, Agresti M, Bruce T, Yan YH, Granlund A, Matloub HS. (2007). “Effects of cellular phone emissions on sperm motility in rats”. Fertil Steril., 88 (4): 957-64.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s