Rule Britannia: Magick in Service to the Crown

Oleh LC Vincent (untuk Henrymakow.com)

Itu barangkali adalah poin tertinggi dari Jerman di Perang Dunia II. Perancis terbaring lesu di bawah sepatu mesin perang Jerman. Satu hal yang berdiri di antara Inggris dan Jerman adalah Royal Air Force. Atau yang sangat serupa dengannya.

Kita mengetahui yang diceritakan buku-buku sejarah tradisional kepada kita semua. Royal Air Force bertahan dari kekejaman yang berulang dilakukan Jerman Luftwaffe dan Hitler mengalami pertumbuhan kegelisahan yang meningkat bersama ide dari sebuah serangan dari darat dan laut.

Kenyataannya, tentu saja, adalah lebih kompleks. Inggris menggunakan kekuatan dari teknologi sihir—dari Magick (Sihir)—dan itu bukanlah kali pertama Kerajaan Inggris menggunakan jasa kekuatan dari banyak tukang sihir terkenal.

Kerajaan Inggris, pemegang saham dari Bank of England, saling melengkapi bersama Illuminati, yang adalah para pemuja setan. Pendirian itu untuk alasan layanan Intelijen mereka akan menggunakan ilmu sihir untuk tujuan akhir mereka. Singa yang berbagi kejahatan dunia awalnya berasal dari sumber ini.

Pada tahun 1986, buku yang dinamakan “Lammas Night,” cerita fiksi yang sangat sempurna tentu saja, meyakini bahwa kelompok para penyihir dan warlock pernah bertemu di tempat yang sakral selama Inggris mengalami depresi berkepanjangan untuk penampilan perayaan sihir, dengan obyek menjaga Hitler dari menyerbu Inggris lewat mengisi kepalanya dengan kebingungan dan perasaan ragu-ragu bercampur takut setelah serangan darat dan lautnya disebut sebagai “Operasi Singa Laut.”

Banyak orang mengucapkan selamat kepada penulis, Kathrine  Kurtz, yang memotret secara realistis mungkin dari kejadian “fiksi” ini. Dia telah diberi aplaus karena menciptakan hal yang membuat bersemangat dan menggambar cukup baik para karakternya. Alasan kejadian “fiksional” ini adalah seperti sebuah cincin kebenaran karena seperti perayaan-perayaan yang secara tepat yang pernah terjadi seluruhnya di Inggris.

Menurut penulis Gerald Suster, di dalam bukunya “Hitler: The Occult Messiah,” mengutip  penyihir Inggris Gerald Gardner, “Para penyihir berperan mengucapkan mantra untuk menghentikan Hitler dari mendarat (ke Inggris, penj.) setelah kekalahan Perancis. Mereka berjabat tangan, mengangkat cone terbaik dari kekuatan dan langsung terlebih dahulu ke otaknya Hitler: ‘Kamu tidak bisa menyeberangi laut. Kamu tidak bisa menyeberangi laut. Tidak sanggup datang. Tidak sanggup datang.’ … Saya tidak mengatakan mereka menghentikan Hitler. Saya selalu mengatakan bahwa Saya melihat sebuah perayaan yang sangat menarik yang ditampilkan dengan maksud meletakkan sebuah pemikiran pasti ke dalam pikirannya dan ini diulangi beberapa waktu sesudah itu; dan setelah itu seluruh kapal barkas telah disiapkan, faktanya adalah Hitler tidak pernah mencoba untuk datang.”

Gardner mencoba menghubungi untuk tulisannya ini Dion Fortune, penulis buku “The Magical Battle of Britain.” Fortune adalah ketua The Society of The Inner Light. Ketika Jerman menyerbu dan mengalahkan Polandia pada saat itu, Fortune, termasuk me-review buku ini, “… inisiasi sebuah serial dari program sihir di desain menghalangi para ekspansionis yang menuju kepada Third Reich.”

Armada Spanyol

Ini bukanlah kali pertama Inggris mengaplikasikan sihir pada situasi pasang surut sejarah. Barangkali kejadian pertama yang terekam adalah saat Inggris bertemu Armada Spanyol Raya di tahun 1588.

Pada 1567, Raja Phillip II dari Spanyol, atas keinginan Vatikan, bersiap untuk menginvasi Inggris. Tanpa diketahui oleh Phillip II, bagaimanapun, Ratu Inggris, Elizabeth I, memperkerjakan dua orang teknisi gaib (penyihir) untuk melanjutkan dan memperluas jajahan Inggris di seluruh samudera. Dua penyihirnya bernama Sir Edward Kelly dan Dr John Dee.

Dengan restu dan fasilitas dari Kerajaan Inggris, Kelly dan Dee menampilkan beberapa pekerjaan sihir, disebut skryings, yang membiarkan Dee dan Kelly berkomunikasi langsung dengan makhluk yang disebut “malaikat.” Proses ini menggambarkan peragaan sihir sigil-sigil dan jimat-jimat yang disempurnakan dengan menggunakan sebuah batu “Shewstone.” Selanjutnya batu ini, dikatakan untuk yang telah diberikan kepada Dr Dee melalui malaikat Uriel, John Dee mampu membangun sebuah bahasa malaikat dengan alfabet miliknya, dimana ia dipanggil Enochian. Selama menggunakan bahasa yang digunakan oleh malaikat, Dee dan Kelly, menurut legenda, mampu untuk membangun dan mentasbihkan jimat-jimat secara jelas di desain untuk menciptakan sebuah badai yang kuat untuk menghancurkan dan meneggelamkan Armada Spanyol, dan lari tunggang langgang.

Tentu saja, sebuah badai yang kuat menenggelamkan dan menghancurkan bagian terluas dari Armada Spanyol sebelum sisa-sisanya kembali ke Spanyol. Tetapi yang dikatakan oleh banyak ahli sejarah dan mahasiswa sejarah tidak mengetahui apa yang telah terjadi disana yang sebenarnya TIGA usaha oleh Armada Spanyol untuk menggunakan Angkatan Laut Inggris dan menyerbu Inggris, dan setiap waktu, sebuah badai besar yang tidak dapat diketahui akan terjadi, menenggelamkan dan membuat kapal-kapal Spanyol berhamburan terkena badai.

Rumor menyatakan bahwa Dr John Dee dan Sir Edward Kelly mengaplikasikan kegiatan sihir Enochian dan setiap waktu kekuatan Alam menggetarkan pada perintah mereka untuk menyelamatkan Inggris dari kekalahan.

Dr Dee dan Sir Edward Kelly berkunjung secara ekstensif ke kerajaan, dan Dr Dee melaporkan kepada Sir Francis Walsingham, Spymaster Elizabeth yang pertama. Dee juga dianggap sebagai double O seven (007) yang asli, sepertinya Dee ditandai laporannya kepada Walsingham dengan dua lingkaran, yang mewakili mata, diatasnya dia menggambarkan tanda matematis dari akar kwadrat, yang dimunculkan menjadi nomor tujuh, atau jika digabungkan menjadi, 007! Ya benar disini ada lebih banyak kisah, seperti yang diklaim oleh Aleister Crowley, menurut John Symmonds didalam bukunya, “The Great Beast,” bahwa satu dari penjelmaan masa lalu Crowley adalah Sir Edward Kelly, Skryer dari “shew stone” yang menolong Dr Dee mengformulasikan kekuatan yang luar biasa dari bahasa sihir Enochian.

James Bond dan Aleister Crowley

Kira-kira empat ratus yang lalu, Ian Flemming, penulis cerita terkenal James Bond (007) saat itu masih bekerja di Intelijen Inggris, dan Aleister Crowley diperintahkan oleh Winston Churchill untuk mengformulasikan sebuah strategi ilmu sihir melawan Hitler dan Jerman. Menurut artikel di koran Inggris, “The Telegraph,” pada tanggal 4 Maret 2008, Crowley memutuskan untuk membangun sebuah tempat acara ritual ilmu sihir di pegunungan Ashdown. Hal ini diharuskan menciptakan sebuah lingkaran yang luas dengan sebuah jalan dari pohon-pohon yang memimpin sebagai lingkarannya. Acara ritual ini desain untuk daya tariknya diserahkan kepada Rudolph Hess dari Inggris agar membocorkan acara ini kepada Kedutaan Besar Roma, dan kemudian ke Jerman.

Tujuan dari acara ini adalah di desain untuk meyakinkan Hess bahwa disana sebuah Partai Perdamaian sesungguhnya di Inggris, dipimpin oleh Duke of Hamilton, pemimpin yang bereputasi dari Cliveden Set, sebuah majelis yang longgar dari tingkatan bangsawan teratas, yang dikira bersimpatik terhadap aliansi antara Inggris dan Jerman. Itu masuk ke dalam lingkungan pergaulan yang aneh itu Hess meluncurkan misi perdamaiannya pribadi. Hasil dari alasan ini adalah Inggris mampu untuk menciptakan semangat kepada para simpatisannya (yang ternyata adalah Konspirasi, penj.) dan menetralisir mereka, selama menggelar parade seorang yang ditangkap Hess, pria Nomor Dua dari Mesin Nazi, sebagai seorang tawanan Nazi. Menurut artikel tersebut: “Keuntungan dari 11 Mei sebagai hari Hess untuk menjalani latihan kembali yang sangat hati-hati ke dalam ritual-ritual dan Crowley menciptakan seorang yang sesungguhnya menuruti perintah mereka untuk menjerat kepada perselisihan melalui shir mereka.”

Kelihatannya, adalah bukan pertama kali jika Aleister Crowley telah diminta untuk membagikan talenta-talenta unik yang dimilikinya kepada upaya perang Inggris. Menurut penulis Gerald Suster, di dalam bukunya, “The Legacy of the Beast,” Crowley diajak untuk menemui direktur British Naval Intelligence pada awal mula PD II. Suster menyatakan: “Crowley mengklaim bahwa dia mengadvokasi kegunaan dari dua tanda ilmu sihir yang mendorong semangat juang Inggris dan yang secara bertahap digunakan oleh Winston Churcill: tanda ‘V.’ yang mengandung pengertian di dalam ilmu sihir adalah melawan Swastika, dan ‘Mengangkat Dua Jempol (Thumbs Up)!,’ tanda dari phallus dan Kemenangan, yang dipublikasikan di dalam sebuah pamphlet puisi Crowley selama hari-hari keputusasaan yang berlangsung lama di tahun 1940 dan orang-orang yang menyebarkannya di seluruh negeri.”

Keahlian tanda-tanda yang ada di dalam ilmu sihir ini untuk menggerakkan massa melawan Hitler dan Third Reich tidak boleh hanya menjadikan kontribusi Crowley saja kepada upaya melibatkan Inggris ke dalam upaya PD II, adalah Intelijen Inggris juga telah menngunakan Crowley sebagai pasangan Churcill lebih daripada satu kesempatan. Dalam halaman selanjutnya, yaitu halaman 131, “The Legacy of The Beast” ada sebuah foto diri Crowley yang menirukan Winston Churcill. Sebuah kemiripan yang tidak biasa.

The Lusitania

Dengan semua tindak-tanduknya, tidak diragukan lagi jika Aleister Crowley telah melayani waktu perang kepada Kerajaan Inggris selama terjadi perang dunia I. Saat berada di New York, Amerika belum melibatkan diri kepada perang, dan perang belum terjadi baik dari Inggris maupun sekutunya. Berbagai alasan telah dicoba dan gagal untuk melibatkan Amerika kepada konflik.

Crowley memutuskan untuk menjadi kontributor untuk surat kabar Inggris berbahasa Jerman yang bermarkas di New York, yang bernama “The Fatherland” setelah meyakinkan editor koran tersebut, George Sylvester Viereck, bahwa dia (Crowley) benar-benar orang Irlandia dan kemudian seorang musuh Inggris dan temannya Jerman.

Menulis dengan beragam nama pena, Crowley menulis artikel bahwa dia bahwa jika boleh sebenarnya dihasilkan dalam menenggelamkan kapal penumpang Inggris, ‘The Lusiana’ oleh kapal selam Jerman, saat dia mempromosikan, dalam perbedaan yang amat sangat dan dengan kalimat hiperbola yang memperkosa, kasusnya untuk sikap Jerman yang melarang peperangan dengan menggunakan kapal selam. Dalam buku “The Legend of Aleister Crowley” oleh PR Stephenson dan Israel Regardie, mereka mengutip pernyataan Crowley: “Saya menganjurkan ‘Perang Kapal Selam yang Terlarang,’ secara rahasia mengalkulasikan (sebenarnya sekarang, adalah waktunya untuk ditunjukkan) bahwa sangat menyakitkan hati sebuah kekerasan dari seluruh hukum dan kesopanan manusia akan menjadi JERAMI TERAKHIR dan kekuatan Amerika akan datang ke sisi kita.”

Tak ada keraguan di dalam pikiran Crowley bahwa dia menulis telah memutuskan sebab. Dia telah menulis di artikel paling awal di ‘The Fatherland’ yang berjudul “Masa Depan dari Kapal Selam” menganjurkan kerusuhan seperti menggunakan kapal perang-kapal perang bawah laut, yang telah dipublikasikan di ‘The Fatherland’ dan pastinya dibaca oleh Jerman. Seperti yang ditulis Crowley di dalam otobiografinya, “The Confessions of Aleister Crowley,” pada suatu ketika sebuah pertemuan yang bersifat rahasia dengan seorang anggota Kedutaan besar Inggris di New York, dia menunjukkan sebuah kopi-an artikel dan sangat ingin sekali mengatakan: “Orang yang bodoh sekali telah mencetak hal ini; dan itu menjadi gilirannya trik.”

Pada tanggal 7 Mei 1915, The Lusitania dihantam oleh satu torpedo dari kapal selam Jerman U-20, dan tenggelam 18 menit kemudian, menewaskan 1,198 dari 1,959 jiwa penumpang yang bersamanya. Tenggelamnya The Lusitania menyebabkan kehebohan internasional, dan karena secara substansi menewaskan warga Amerika, hal ini memainkan peranan yang sangat penting dalam masuknya Amerika Serikat di sisi Inggris dan para sekutunya.

Sebagai seorang pemuja setan, hilangnya nyawa adalah sebuah hasil dari aksi ini bukanlah konsekuensi bagi Crowley, yang sangat dipenuhi hasrat menganjurkan dan merayakan hasil dari magickal Will diatas Bumi ini.

Ironi, tentu saja, adalah bahwa “The Great Beast” memperoleh kesuksesannya sangat baik di dalam meyakinkan Angkatan Laut Jerman, dengan anjurannya Perang Kapal Selam yang Terlarang yang dicetak, untuk menjalankan setiap aksi yang akan menutup takdir Negara Jerman dan memimpin Jerman untuk dikalahkan di dalam Perang Dunia I.

Aleister Crowley menyebut Britania Raya adalah “perfidious Albion.” Hal ini menunjukkan kepada fakta, menurut Crowley, bahwa karakteristik yang paling banyak dari kelas tertinggiInggris adalah penghianatan, “double-dealing” dan munafik. Melalui standar ini, apa yang dilakukan “Kerajaan” kepada Jerman akan menjadi sama untuk bagian tingkah laku mereka. After all, mereka adalah pemuja setan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s