MoU Helsingki, UUPA dan Masa Depan Syariat Islam di Aceh

Tulisan ini tercipta dari pemikiran saya saat sedang mengikuti Seminar Revisi UUPA dengan mengangkat tema “Mewujudkan Eksistensi UUPA (Undang-undang Pemerintahan Aceh, pen.) Sesuai dengan MoU Helsingki” yang diselenggarakan oleh HMJ Syariah Jinayah wa Siyasah, Sabtu pagi (19/6) di lantai 3 biro rektor IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Tema yang diangkat adalah tema yang memang sangat penting diangkat kembali ke permukaan. Melihat gaungnya seperti tidak ada lagi, berbeda-beda dengan awal-awal damainya Aceh, beberapa tahun lalu. Masyarakat Aceh mesti menyakan kembali hal ini, apakah memang UUPA ini sudah dijalankan dengan semestinya, atau, diamnya realisasi UUPA ini terjadi karena “pihak pemenang” dalam hal ini pihak GAM, sudah meraih kekuasaan, sehingga penerapan UUPA yang adalah hasil dari MoU Helsingki ini tidak “diperlukan lagi” oleh mereka karena, MoU ini adalah cara mereka untuk meraih kekuasaan, sehingga ketika usaha meraih kekuasaan ini telah dicapai, maka mereka tidak mengurusi lagi hal yang penting ini (baca UUPA). Dan syariat Islam hanyalah alat yang digunakan GAM untuk mendapatkan dukungan rakyat Aceh yang mayoritasnya beragama Islam. Seperti yang sering dipraktekkan oleh orang-orang yang ingin meraih kekuasaan di jenjang yang lebih tinggi lagi, di Dewan atau jadi penguasa.

Namun, bukan hal ini yang menjadi pokok permasalahan yang ingin penulis utarakan disini, tetapi ada satu hal yang mendasar yang mesti masyarakat Aceh untuk pertanyakan kembali, yakni penerapan syariat Islam di Aceh pasca MoU Helsingki ini. Apakah hal ini sudah dijalankan dengan sangat baik? Dan apakah hal ini ada terkandung di dalam MoU Helsingki dan UUPA?

Baca lebih lanjut

MELACAK GERAKAN PEMUJA SETAN DARI MASA KE MASA (Bagian I)

Awalnya saya pernah berpikir jika para pemuja setan itu adalah tidak ada sama sekali. Jika ada pun itu hanya di dalam lembaran sejarah dunia. Namun, ketika saya membaca buku tentang Zionisme, saya “dituntun” untuk menelusuri banyak website luar negeri yang menjelaskan tentang hal ini. Beberapa website lokal juga ada yang menjelaskan tentang hal ini, tetapi hanya sebatas berita saja. Itu pun kisah di luar negeri saja, di Indonesia tidak pernah disinggung tentang hal ini. Jadi, kesimpulan awal saya saat itu di Indonesia “tidak ada” kepercayaan seperti itu.

Di dalam tulisan ini, saya tidak mencoba menjadi seorang tauhidi, tetapi di dalam tulisan ini saya mencoba untuk menjelaskan kepada kalian semua, jika gerakan ataupun kelompok penyembah setan ini memang ada, meskipun untuk kita dapat melacaknya itu sulit.

Baca lebih lanjut

Mengungkap Rahasia Dinasti Bush: Bisnis Perang dan Hubungannya dengan Proyek Hitler

Dikutip dari bab kedua buku hasil penelitian Webster G Tarpley & Anton Chaitkin, “George Bush: The Unauthorized Biography,” yang berjudul “The Hitler Project.”

Menangkap Properti Bush—Berdagang dengan Musuh (Bagian I)

Pada bulan Oktober 1942, sepuluh bulan setelah memasuki Perang Dunia II, Amerika telah menyiapkan serangan pertamanya melawan tentara militer Nazi. Prescott Bush adalah managing partner dari Brown Brothers Harriman. Anaknya George yang berumur 18 tahun saat itu, George menjadi Presiden AS selanjutnya, telah mulai dididik menjadi seorang pilot angkatan udara. Pada 20 Oktober 1942, pemerintahan AS memerintahkan menyita operasi perbankan Nazi Jerman di New York City yang dilakukan oleh Prescott Bush.

Di bawah Trading with the Enemy Act, pemerintah mengambil alih Union Banking Corporation, dimana Bush menjadi direkturnya. The US Alien Property Custodian menyita stok saham milik Union Banking Corp, semuanya dimiliki oleh Prescott Bush, E Rolland “Bunny” Harriman, tiga pejabat Nazi, dan dua lainnya berhubungan dengan Bush. Baca lebih lanjut