Nasib Malang para Janda di Irak

TIGA dekade perang tak berkesudahan di Irak menimbulkan penderitaan bagi rakyat negara itu. Termasuk bagi kurang lebih sejuta janda yang kini kesulitan membiayai kehidupan keluarga mereka.

Salah satu dari mereka adalah Hameeda Ayed. Usianya kini 45 tahun dengan tiga anak berusia 10, 12, dan 15 tahun. Seharusnya dia berhak mendapat santunan 150 ribu dinar atau sekitar Rpl,2 juta sebulan dari pemerintah Irak, ditambah 15 ribu dinar atau RpllO ribu untuk tiap-tiap anaknya. Tetapi, setelah mengurus ke sana kemari tanpa hasil selama dua tahun, Ayed menyerah. Kini dia berjualan makanan dan minuman di rumah peninggalan suaminya yang tewas akibat sengketa sektarian pada 2007.

“Kehidupan kami sekarang menderita. Pasukan asing datang dengan janji menegakkan demokrasi. Tetapi, hasilnya hanya semakin banyak anak yatim, janda, gelandangan, dan pengungsi,” ujar Ayed.Pertanyaan mengenai nasib parajanda dan keluarga mereka itu ditangani pemerintah Irak melalui badan yang disebut Direktorat Kesejahteraan Perempuan. Badan ini mengambil alih pekerjaan Kementerian Tenaga Kerja yang dituding sering mengorupsi dana santunan. Namun, direktorat tersebut kekurangan dana dan ndak memiliki wewenang untuk menindak para koruptor uang santunan.

Sebelum Irak diinvasi pasukan internasional pada 2003, penguasa negara, yakni Saddam Hussein, juga sudah menyantuni janda korban perang Irak-lran. Karena masih kaya raya oleh uang penjualan minyak, Saddambersikap royal dengan membagikan tanah, mobil, hingga uang pensiun yang besar. Namun, perlakuan ini tidak diberikan kepada puluhan ribu korban pertentangan Saddam dengan kelompok oposisi, etnik Kurdi, atau warga Syiah.

Menurut Jinan Mubarak, pimpinan LSM yang mengajar perempuan Irak untuk siap bekerja, kemiskinan kini telahmenjerumuskan sejumlah perempuan ke dalam prostitusi di Irak, Yordania, dan Suriah. “Para perempuan Irak dieksploitasi di sejumlah daerah,” kata aktivis perempuan Suzan Kazim Kashkoul, membenarkan hal tersebut. Kekerasan pascainvasi Amerika Serikat juga telah mempersempit kesempatan para janda menikah kembali. Apalagi ditambah perkawinan antarawarga Syiah dan Sunni yang kini menurun akibat kekerasan sektarian.

Kesulitan lainnya yang dialami para janda itu ialah mendapat rumah yang layak karena harga rumah terus naik di saat perekonomian memburuk. “Boleh dibilang krisis ekonomi merupakan penyebab utama semua masalah perempuan di Irak,” kata Mubarak. (media indonesia/foto ditambahkan not mister jekyll)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s