Ketika Si Bola Bundar Jadi Mainan Kapitalisme Global

WCMeskipun pesta Piala Dunia di Brasil digadang-gadang untuk mendongkrak pariwisata dan meningkatkan laju perekonomian negara samba tersebut. Tetapi nyatanya, pesta olahraga sepakbola tahunan ini sendiri tidak memberikan dampak yang berarti bagi peningkatan hajat hidup rakyat Brasil. Demo demi demonstrasi pun mulai bergerak silih berganti di setiap ruas jalan kota Sao Paolo dan kota-kota di sekitarnya.

Demo Anti-Piala Dunia 2014 Kembali Guncang Brasil. Spanduk anti-Piala Dunia 2014 dibentangkan dalam unjuk rasa di kota Sao Paulo, Rabu (17/4/2014) pagi waktu setempat. (Foto: Tribun News)

Demo Anti-Piala Dunia 2014 Kembali Guncang Brasil. Spanduk anti-Piala Dunia 2014 dibentangkan dalam unjuk rasa di kota Sao Paulo, Rabu (17/4/2014) pagi waktu setempat. (Foto: Tribun News)

“Saya amat menentang Piala Dunia. Negara ini sangat membutuhkan uang dan rakyat membutuhkan bantuan. Tetapi kita lihat jutaan dolar digelontorkan untuk pembangunan stadion,” ujar seorang pendemo Tamares Mota, seperti dikutip Okezone.com dari Associated Press, Jumat (13/6/2014).

Laman MediaUmat.com menjelaskan sebenarnya ajang Piala Dunia bukanlah milik Brazil. Perhelatan tersebut sepenuhnya dikendalikan oleh para kapitalis global. Mereka memiliki otoritas yang lebih tinggi dibandingkan pemerintah setempat. “Globalisasi sepak bola hanyalah alibi untuk ekspansi bisnis kalangan tertentu. Bagi rakyat jelata, tidak ada yang didapatkan dari Piala Dunia kecuali kepuasan sementara,” demikian MediaUmat.com.

Foto: Kaskus

Foto: Kaskus

Semua aturan dibuat oleh FIFA. Pemerintah setempat tinggal stempel saja. Begitu pun warga dunia. Mau tidak mau harus mengikuti aturan main yang ada. Tak mengherankan bila ada kalangan yang menilai telah terjadi oligarki bisnis sepak bola. Ini terkait dengan hak siar. Semua aktivitas pecinta sepak bola di mana pun harus mengikuti aturan global (bisnis). Demi globalisasi, hak siar pertandingan sepak bola Piala Dunia tidak lagi bebas diakses siapa pun. Semua harus mengikuti hukum yang sudah dibuat. Aturan dibuat pertama-tama untuk mengamankan kepentingan pebisnis sepak bola.

Foto: bumirakyat.wordpress.com

Foto: bumirakyat.wordpress.com

Ini pas dengan pernyataan James Petras dan Henry Veltmeyer: globalisasi tidak lain penyesuaian diri dan kepatuhan dari semua orang di dunia yang akan bergantung pada kapitalisme pasar, yang kapasitasnya didominasi dari golongan yang berkuasa saja (Globalization Unmasked, 2001). Mantan presiden CBS News Richard Salent menjelaskan bagaimana sebenarnya peran media massa dalam menggolkan tujuan dari ideologi Kapitalisme. “Pekerjaan kami ialah memberi masyarakat (hal yang) bukan mereka inginkan, namun yang KAMI putuskan harus mereka miliki.”

Dari sisi politik, ajang Piala Dunia merupakan upaya sistematis membangun fanatisme kebangsaan. Rakyat dunia didorong untuk memegang erat ikatan-ikatan kebangsaannya dengan mendukung tim negaranya. Makanya ajang ini menyertakan seluruh negara di dunia untuk ikut andil, dimulai dari babak prakualifikasi. Ikatan nasionalisme ini memang tumbuh tapi bersifat temporal selama ajang itu berlangsung. Begitu bubar, ikatan itu pun kendor. Dimunculkanlah lagi ajang lainnya yang sejenis secara periodik.

Foto: Simomot.com

Foto: Simomot.com

Ajang ini sekaligus ditujukan untuk meninabobokkan warga dunia yang berada dalam penderitaan dan sedang berusaha melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Melalui media massa, mereka didorong secara massif untuk menyambut ajang tersebut dan melupakan apa yang dialaminya sejenak.

Piala Dunia di Brasil kini sedang berlangsung. Kota Sao Paulo ditunjuk sebagai tempat pembukaan yang mempertemukan Brasil dan Kroasia pada 13 Juni 2014. Meski protes masih berlangsung di Brasil hingga saat ini, aksi tersebut tidak pernah mencapai jumlah yang besar seperti yang terjadi setahun lalu. Sementara pelaksanaan pesta olahraga empat tahunan ini, media massa melaporkan berlangsung lancar tanpa ada hambatan.

Sundul-TV-Demo-Anti-Piala-Dunia-Costa-Mandul-Gol-Pekan-Berat-Arsenal-Prediksi-BolaSekali lagi kami jelaskan, sejatinya ajang Piala Dunia adalah proyek kapitalisasi dunia olahraga. Karena bagi ideologi Kapitalisme, apa saja dapat diuangkan. Termasuk si bola bundar. (Aceh milik Allah/mediaumat/maindstream media indonesia/mugiwara no nakama/NMJ)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s