Melihat Jakarta Sebagai Markas Organisasi Yahudi di Indonesia

Jakarta-PanoramaTahukah anda jika Kota Jakarta “modern” dibangun oleh VOC? Maskapai Perdagangan Hindia Belanda ini merupakan korporasi raksasa terbesar di zamannya yang dikuasai Yahudi Belanda. Lambang VOC sama dengan lambang gerakan rahasia Yahudi Kabbalah bernama Freemasonry. Hal ini masih bisa kita saksikan di bilah pedang VOC yang tersimpan di lantai dasar sayap kiri Museum Fatahillah Jakarta Kota.

voc-freemason-2VOC adalah maskapai dagang terbesar dimana pendiriannya digagas oleh para pelarian Templar yang bersembunyi di balik jubah Knight of Christ. Tidak heran, jika kemudian kelompok persaudaraan Freemasonry yang menjadi induk para pelarian Templar berkembang dengan sangat pesat di setiap wilayah yang diduduki VOC. Ini terjadi terutama di Batavia di mana VOC memusatkan diri di kota kecil yang dahulu dikenal sebagai kota pelabuhan Sunda Kalapa. Istimewanya kedudukan Batavia di mata Grand Master Freemasonry Belanda bisa dilihat dari dimulainya penyebaran aktivitas persaudaraan dari kota ini ke seluruh Asia. Tidak heran jika Loji Freemasonry pertama di Asia pun dibangun di Batavia.

Selain Freemasonry, di Jakarta juga pernah ada gerakan Rosikrusian (salah satu pewaris Templar) dan Moral Re-Armament. Karena menimbulkan kegelisahan masyarakat sekitar dan bertentangan dengan keyakinan bangsa Indonesia yang bertauhid, gerakan-gerakan Luciferian ini akhirnya dibubarkan dan dilarang keberadaannya di seluruh wilayah hukum Indonesia dengan dikeluarkannya Lembaran Negara nomor 18, 27 Februari 1961 oleh Presiden Soekarno. Rotary Clubs dan Lions Club, dua organisasi yang menghimpun orang-orang “terpilih” dan diyakini banyak kalangan tidak beda dengan Freemasonry juga dilarang. Namun yang dua ini, setelah Jenderal Soeharto naik menjadi penguasa baru dengan mengkudeta Soekarno di tahun 1965, bisa hidup lagi sampai sekarang. Walau demikian, gerakan keduanya tetap diliputi kerahasiaan.

Yahudi Kabbalah senantiasa meninggalkan jejak di mana pun mereka pernah merasa berkuasa. Jejak-jejak mereka biasanya berupa aneka simbol yang dipahat di dalam arsitektural gedung, tata ruang kota, patung, aneka monumen, dan sebagainya. Kota London, Paris, Washington DC merupakan sebagian kota yang sarat dengan simbol-simbol tersebut.

Jakarta sebagai kota yang dibangun VOC dan merasakan penjajahan Yahudi Belanda yang sedemikian lama, juga sarat dengan simbol-simbol pagan Yahudi, baik yang terbuka dan terang-terangan maupun yang tertutup.

Yang terbuka adalah seperti lambang Bintang David (Davidian Seal) yang ada di atas puncak kubah Loge Lux Orientis Le Droit Humain (Cahaya Timur – Hak Manusiawi) yang dibangun ELPG Fournier pada tahun 1933. Gedung ini berada di ujung jalan Pasar Turi di daerah Menteng. Di zaman Suharto dan beberapa tahun setelahnya, gedung ini pernah dijadikan sebagai taman kanak-kanak dan sekolah dasar, juga gereja, dan Yayasan Kesehatan Santikara.

Namun saat ini gedung tersebut—yang masih dalam bentuk aslinya, kecuali lambang Bintang David di atas kubahnya sudah dicopot—tidak memiliki aktivitas apa-apa lagi. Nama Santikara masih ada di depan pintunya. Setiap hari, sejak pagi, di trotoar depan dan samping gedung yang terletak tepat di pertigaan jalan tersebut digelari lapak-lapak barang-barang bekas. Menurut tukang ojek yang mangkal tepat di depan gedung tersebut kepada saya (11/2), warga sekitar gedung pernah melakukan demonstrasi menolak akivitas peribadatan yang pernah dilakukan di zaman Suharto dan sebab itu gedung tersebut sudah lama vakuum dari segala aktivitas. “Warga di sini menyebutnya sebagai Gereja Bintang,” ujar tukang ojek tersebut.

Yang kedua ada di gedung Loge Adhuc Staat yang sekarang dijadikan Gedung Bappenas. Awalnya, ada Bintang David yang terukir di depan atas gedung tersebut namun sekarang dihilangkan. Kemudian ada lagi di sejumlah gedung lainnya seperti gedung Kimia Farma dan juga gedung Departemen Keuangan yang lama di dekat Lapangan Banteng. Pembangunan Adhucstat Logegebouw atau yang kini kita kenal sebagai Gedung Bappenas, menimbulkan banyak kontroversi. Catatan resmi menyebutkan jika gedung tersebut mulai dibangun pada tahun 1925 dengan bentuk yang

Pertemuan Freemason Belanda dan pribumi masa Hindia Belanda

Pertemuan Freemason Belanda dan pribumi masa Hindia Belanda

sungguh-sungguh berbeda dengan vegetasi sekitar. Bentuk bangunannya mirip dengan benteng dengan sisi kanan dan sisi kirinya berbentuk kaku-persegi serta menjorok ke depan sedikit.

Dalam arsitektur Gedung pusat pemerintahan Batavia yang dibangun para Mason Stadhuis atau yang sekarang lebih populer dengan sebutan Gedung Museum Fatahillah yang terletak di Kawasan Jakarta Kota juga mengandung banyak angka 13 yang diselipkan ke dalam susunan “batu Istana Dam” yang ditanam di pelataran depan bagian kanan tangga utama dan diberi bingkai alumunium (ada 13 susunan dari atas ke bawah), lalu ada 13 batu yang disusun melengkung di atas gerbang utama gedung ini di mana sebuah batu kunci (Key Stone) menjadi pusatnya, kemudian di tengah Key Stone tersebut ada sebuah pahatan bunga mawar (Rosicrusian, sebuah persaudaraan Kabbalis juga) di mana kelopak dan bagian tengah bunga juga berjumlah 13, lalu jumlah batangan kayu yang menyangga bagian atas pintu gerbang utama juga ada 13 buah, dan yang menarik adalah luas keseluruhan areal Stadhuis yang ternyata juga 13.000 meter persegi. Terlalu naif bila hal ini dianggap sebagai sebuah kebetulan belaka.

Simbol Brotherhood of Snake (Persaudaraan Ular) juga ada di tangan Patung Dewa Hermes yang dulu ada di perempatan Harmoni, namun sejak 1999 di pindahkan ke dalam halaman Museum Fatahillah. Simbol ular merupakan simbol tertua kaum pagan yang terdapat di seluruh penjuru dunia, dari Mesir hingga Amerika Latin, dari Italia hingga India.

La Choisie, yang berarti “Kaum yang Terpilih”, merupakan nama sebuah Loji Freemasonry yang dibangun di sudut barat Vrijmetselaarweg atau Jalan Freemasonry, yang sekarang diubah namanya menjadi Jalan Budi Utomo, Jakarta Pusat. Gedung ini pun sekarang berubah fungsi menjadi Gedung Kimia Farma. Gedung tersebut mulai dibangun di tahun 1761 oleh Petrus Albertus van der Parra, atas prakarsa Jacob Cornelis Matthieu (JCM) Radermacher yang saat itu masih berusia 20 tahun. Orang ini sangat berperan penting dalam gerakan persaudaraan Freemasonry di Batavia dan juga Asia.

JCM Radermacher (1741-1783) merupakan seorang ahli botani dan penulis, sebagaimana halnya Sir Thomas Stamford Raffles. Orang akan bisa menduga, jika di usia yang masih sangat belia namun dia sudah memiliki pengaruh yang kuat, tentulah dia bukan anak orang sembarangan. Ini benar. Sang Ayah, Jacob Cornellis (JC) Radermacher (1700-1748) adalah Grand Master pertama Belanda di tahun 1730-an dan juga pengatur lalu lintas keuangan keluarga kerajaan. Keluarganya sendiri adalah orang penting dalam Dewan Direksi VOC.

Tahun 1755, JCM Radermacher atau Radermacher junior berlayar ke Nusantara mencari peruntungan. Berkat pengaruh dan jaringan ayahnya, dalam waktu singkat dia berhasil menjadi orang terpandang di Batavia. Pada 21 Mei 1761, dia menikah dengan Margaretha Sophia Verijseel, dan dia mulai bekerja keras untuk menciptakan lahan yang bagus untuk persemaian gerakan Freemasonry di Hindia Belanda. Saat itulah dia mendorong Albertus van der Parra untuk membangun sebuah loji khusus buat persaudaraan, yang kemudian berdirilah sebuah gedung megah dengan enam pilar tinggi dan simbol bintang bersudut lima di atas teras utamanya. Loji pertama di Asia ini dinamakan Loji La Choisie, atau Loji Bagi Kaum yang Terpilih. Dari namanya saja kita sudah mengetahui jika ini merupakan suatu keyakinan rasis, sebagaimana ajaran Nazi dan juga Talmud.

Hanya saja, sejarah resmi menulis jika keberadaan loji ini hanya berjalan selama dua tahun kurang, berakhir ketika Radermacher kembali berlayar ke Belanda tahun 1763 untuk melanjutkan studinya di bidang hukum dari Harderwijk. Pada 13 Juni 1766 dia lulus dan menjadi pengacara di Arnheim. Namun pada 20 Desember 1766, bersama keluarganya dia kembali berlayar menuju Batavia.

Sepuluh tahun kemudian, JCM Radermacher diangkat menjadi Dewan Luar Biasa Hindia Belanda. Dan dua tahun kemudian, pada 24 April 1778, dia mengumpulan para intelektual Hindia Belanda untuk bergabung dalam sebuah perkumpulan yang didirikannya bernama “Perhimpunan Batavia untuk Seni dan Pencerahan” (Bataviaasch Genootschap van Kunsten en wetenschappen) atau yang biasa disingkat menjadi BG saja. Inilah Illuminati-nya Hindia Belanda.

Sejumlah literatur, barang-barang koleksi, termasuk katalog sejumlah flora dan fauna dari seluruh Nusantara pun dikumpulkan. Sebuah gedung dibangun untuk menampung koleksi benda-benda ini, yang pada akhirnya tersimpan di dalam sebuah gedung yang sekarang bernama Museum Nasional Republik Indonesia, atau lebih populer dengan nama Museum Gajah.

Kembali ke Loji La Choisie, walau catatan resmi menyatakan kegiatan loji ini berjalan amat singkat lalu bubar, namun dipercaya bahwa pelopor Freemasonry di Asia bukanlah bubar melainkan menyebar ke pelosok-pelosok negeri untuk membangun persaudaraan. Adalah fakta, ketika La Choisie ‘bubar’ maka dalam waktu singkat bermunculan banyak sekali loji masonik di Hindia Belanda dan juga di Asia.

Seiring dengan perjalanan sejarah, gedung tempat Loji La Choisie ini pada tahun 1917 dipakai sebagai kantor NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co., perusahaan farmasi pertama di Hindia Timur. Sejalan dengan kebijakan nasionalisasi eks perusahaan-perusahaan Belanda, di tahun 1958 pemerintah RI melebur sejumlah perusahaan farmasi menjadi PNF Bhinneka Kimia Farma. Selanjutnya pada 16 Agustus 1971 bentuk hukumnya diubah jadi Perseroan Terbatas, jadi PT Kimia Farma (Persero). Sekarang, gedung ini tetap berdiri dengan simbol bintang bersudut lima yang sudah dihilangkan. (eramuslim/NMJ)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s