Walt Disney, Illuminati dan Mind Control (Bagian II)

a4335510203_disney_illuminati_sex_xlargeSeperti yang telah dijelaskan sebelumnya, selain mengajarkan kepada kesyirikan dengan mempercayai sihir. Banyak film-film Disney’s yang juga menampilkan simbol dan unsur-unsur seksualitas di dalamnya. Sebut saja film The Little Mermaid. Dalam poster film The Little Mermaid ditampilkan simbol Phalllus atau simbol alat (maaf) kelamin pria dengan cukup gamblang. Gambar kelamin pria itu disisipkan di tengah-tengah gambar kerajaan raja laut, Triton. Lalu, di film kartun The Rescuers. Dalam salah satu scene film kartun The Rescuers tersebut ditampilkan gambar perempuan yang tidak berpakaian.

Lalu ada lagi film kartun yang menggabungkan unsur manusia dan kartun dalam satu film. Nama film ini adalah Who Framed Roger Rabbit. Dalam sebuah adegan dalam film yang sempat ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta di tanah air ini ditampilkan seorang perempuan yang tersingkap roknya, dan menampakkan bagian dari tubuh perempuan yang seharusnya tidak perlu ditampakkan. Sedangkan dalam film The Lion King, ditampilkan bentuk kumpulan bintang-bintang di langit yang membentuk tulisan: “SEX.”

Karakter utama Woody dalam film Toy Story sendiri juga patut diperhatikan. Nama “Woody” sendiri adalah istilah dalam bahasa Inggris untuk pria yang sedang ereksi. Wow! Luar biasa sekali! Dengan begitu beraninya Disney’s menamakan tokoh utamanya dengan istilah yang tidak patut tersebut.

Hal-hal yang wow tidak sampai disini saja. Unsur seksualitas juga ada di dalam film petualangan Narnia. Karakter Mr. Tumnus dalam film Narnia sebenarnya adalah karakter dewa kesuburan dan dewa seks dalam mitologi paganisme bernama PAN. Di dalam film Narnia digambarkan Mr Tumnus dekat dengan seorang bocah perempuan bernama Lucy Pevensie. Interaksi yang dilakukan oleh Mr Tumnus kepada Lucy sendiri jika kita jeli adalah interaksi yang dilakukan oleh seorang pelaku fedofilia ketika mendekati anak-anak di bawah umur yang akan menjadi korbannya. Dan parahnya, tidak banyak dari para penonton film ini yang menyadarinya.

Di dalam Narnia, Mr Tumnus digambarkan sebagai karakter yang baik hati, yang dekat dengan anak-anak. Padahal sejatinya, Tumnus adalah representasi dari dewa mesum dalam kepercayaan Paganisme, PAN. Dalam salah satu scene di film, diceritakan kalau Tumnus memiliki kemampuan untuk menidurkan anak-anak. Dan ketika Lucy bangun, Tumnus mengatakan sembari menangis bahwa ia telah melakukan sesuatu perbuatan yang sangat jahat kepadanya. Tentu kita tahu jika pernyataan Tumnus kepada Lucy ini bahwa Tumnus telah melakukan pelecehan seksual kepada Lucy saat gadis kecil itu tertidur.

Hal ini tidaklah mengherankan karena Tumnus adalah karakter dewa mesum dan pemerkosa. Layaknya Dewa Incubus, yang di dalam mitologi pagan disebutkan suka memperkosa perempuan ketika para perempuan sedang tertidur. Mirip dengan karakter Kolor Ijo di Indonesia. Bahkan Dewa Mesum, PAN sering digambarkan sedang (maaf) ereksi.

Selain itu, film kartun produksi Walt Disney’s juga pernah menjadi alat politik AS untuk menyudutkan NAZI, saat partai pimpinan Adolf Hitler itu masih menguasai Jerman dan sebagian Eropa. Di gambarkan, Donal Bebek saat itu harus selalu memberi hormat setiap kali dia melihat foto Hitler. Hal ini membuat Donal kualahan sehingga ia tidak sempat bekerja karena harus terus memberi hormat ketika melihat foto Hitler.

Pada akhirnya terlintas di dalam benak kita, untuk tujuan apa Walt Disney’s Company menyusupkan begitu banyak simbol-simbol ajaran setan ke dalam film-film kartun produksinya? Untuk mengetahui hal ini lebih jauh, agaknya kita perlu melihat sosok di balik lahirnya rumah produksi film-film animasi Hollywood ini. Untuk hal ini, agaknya tak perlu lagi dipaparkan disini karena terlalu banyak artikel yang membahas hal serupa di internet.

Nah mulai sekarang berhati-hatilah dalam menonton atau memberikan tontonan untuk putra-putri Anda di rumah. Tidak ada yang melarang untuk menonton film, namun, hendaknya daya pikir dan daya kritis kita dapat digunakan dalam memilih tontonan. Selektiflah dalam memilih tontonan. Dan jika kita tidak mampu untuk memfilter apa yang kita tonton, maka, sebaiknya hindari menonton tontonan yang merusak pikiran dan aqidah. Masih banyak di luar sana, tontonan yang baik dan aman untuk kita dan keluarga kita. Tinggal pada diri kita saja terletak keputusan untuk memilihnya. (selesai/islampos/mugiwara no nakama/NMJ)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s