Ketika Demokrasi Digunakan Untuk Merusak Tatanan Kehidupan Masyarakat Dunia

mythdemocracy4Berbeda halnya Komunisme dan Sosialisme yang berasal dari orang Yahudi untuk menghancurkan tatanan sosial kehidupan masyarakat di bumi demi tercapainya tatanan dunia baru. Demokrasi yang kini digaungkan oleh banyak orang, pada faktanya bukanlah hasil buatan kaum Yahudi. Argumentasi yang menyebut sistem Demokrasi adalah buatan kaum Yahudi sebenarnya tidaklah tepat. Karena sejatinya bisa saja Demokrasi telah ada berbarengan dengan keberadaan kaum Yahudi. Sejatinya, sistem politik ini telah dimanfaatkan oleh mereka untuk merusak sistem kehidupan yang telah ada. Maka tidaklah heran jika kita membaca literatur sejarah gerakan dunia bila Demokrasi termasuk ke dalam lima asas (Khoms Kanun) terpenting bagi aktivitas pergerakan organisasi Zionis Yahudi bernama Freemasonry dalam menjalankan agenda-agenda merusaknya.

Dalam pengertian Freemasonry, Demokrasi adalah sebuah sistem yang menghasilkan hukum buatan manusia berdasarkan suara rakyat, bukan berdasarkan hukum yang dibuat oleh Tuhan. Mereka mengampanyekan slogan vox populi vox dei (suara rakyat, suara Tuhan). Dalam demokrasi, suara seorang penjahat setara dengan suara seorang ulama.

Menurut Peneliti Zionisme di Asia Tenggara, Abdullah Pattani, slogan vox populi vox dei sebenarnya ikut dipromosikan oleh kaum Yahudi untuk menyebarkan kekacauan seperti diamanahkan dalam Protocol Zionis. Slogan ini berasal dari Talmud dan Masyna serta segala ucapan imam-imam agung (bangsa Yahudi): “Bermusyawaralah dan rapatlah serta berketetapkanlah terhadap pilihan yang berasal dari suara terbanyak. Sebab, suara terbanyak itu adalah suara Tuhan.”

Perhatikanlah pengertian Freemasonry tentang Demokrasi diatas. Sangat sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh kelompok-kelompok pergerakan dakwah yang menyeru kepada penerapan syariat Islam dengan membuang sistem Demokrasi ke dalam tong sampah peradaban saat ini. Ternyata, cara pandang umat Islam selama ini terhadap Demokrasi benar adanya, bukan? Tetapi masih banyak juga orang-orang baik dari kalangan kaum muslimin atau pun bukan yang masih belum mengetahui tujuan sebenarnya diciptakan sistem tersebut.

Dalam rangka menyebarkan paham ini, Freemasonry berusaha keras mendirikan republik-republik demokrasi di seluruh muka bumi. Berdirinya Negara-negara yang menerapkan Demokrasi di dunia secara langsung telah ikut memuluskan agenda mereka untuk menguasai dunia. Hal ini tercantum sangat jelas di dalam Protokol Zionis. Selain tentu saja untuk merampok kekayaan alam di negeri-negeri kaum muslimin yang kini nyaris semuanya menerapkan sistem Demokrasi. Sudah menjadi rahasia umum dikalangan umat Islam, kalau munculnya banyaknya Negara bangsa di negeri kaum muslimin karena ulah kaum Yahudi untuk meruntuhkan Daulah Khilafah Islamiyah di Turki pada 1924.

Ketika dipandang dalam sudut pandang teori konspirasi Demokrasi terbukti jahat dan rusak. Apatah lagi bila dipandang dalam sudut pandang Islam, tentu sangat rusak dan batil. Seperti kita ketahui bersama, awal mula tercipta sistem Demokrasi adalah saat terjadi rasa ketidakpercayaan umat Kristen di Eropa terhadap agamanya karena mereka menganggap agama telah menjadi alat permainan antara kaum agamawan/pendeta dengan raja yang ingin melanggengkan kekuasaannya. Buntutnya, lahirlah paham Sekulerisme. Suatu aqidah yang menjadi pandangan hidup yang memisahkan antara agama dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurut mereka, agama tidak usah ikut campur urusan dunia. Agama hanya boleh berada di dalam gereja-gereja atau di rumah-rumah ibadah saja.

Selanjutnya, orang-orang Eropa yang Sekuler ini mencari suatu model kekuasaan agar tidak bisa di monopoli oleh satu orang, keluarga kerajaan, kaum bangsawan atau penguasa gereja. Seorang peneliti Demokrasi bernama Luthfi Afandi dalam salah satu tulisannya, “Islam Menolak Demokrasi” menjelaskan bahwa ketika mereka mulai mencari alternatif lain sistem pemerintahan, mereka malah menemukannya di sejarah Yunani Kuno (sekitar tahun 450 SM). Inilah satu-satunya bahan referensi yang ada. Dari sejarah itu, lanjut Afandi, mereka belajar bahwa di kota Athena tempo dulu diterapkan suatu sistem, yaitu seluruh warga kota turut serta dalam proses pengambilan keputusan. “Sistem tersebut dianggap sebagai sistem yang baik oleh para pemikir Abad Pertengahan pada waktu itu,” tulisnya.

Anggapan sistem Demokrasi adalah yang terbaik adalah wajar ketika itu, karena saat itu perasaan rakyat yang ingin bangkit dari ketertindasan oleh para elit pemerintahan dengan elit gereja begitu menggelora di dada-dada rakyat-rakyat Eropa saat itu. “Mereka yang sedang tertekan oleh kediktatoran para raja dan kaum bangsawan serta penguasa gereja kemudian mengadopsi sistem Athena tersebut dan mempopulerkannya dengan nama ‘Demokrasi’,” tulis Luthfi Afandi di Media Dakwah dan Politik Al-Wa’ie edisi April 2009. Sekedar informasi tambahan saja, kata “Demokrasi” diambil dari dua kata yang berbeda yaitu, “Demos” yang artinya rakyat dan “Cratein” yang artinya pemerintah, yang kemudian disatukan menjadi “Democraty” yang bermakna kurang lebih kekuasaan atau pemerintahan yang berada di tangan rakyat.

Democracy_is_an_IllusionNamun, dewasa ini, agaknya menganggap Demokrasi sebagai sebuah sistem yang terbaik tidaklah tepat lagi. Mengingat, telah banyak kebrobrokan sistem ini yang telah terungkap dan terpampang di depan mata. Demokrasi sejatinya adalah gagasan utopis. Kenapa utopis? Karena Demokrasi yang dianggap sebagai pemerintahan rakyat, nyatanya adalah omong kosong. Istilah pemerintahan rakyat hanyalah jargon untuk menipu rakyat. Digambarkan seolah-olah rakyat adalah pemegang tampuk kekuasan, padahal sesungguhnya para pemilik modal dan para elit partai lah yang berkuasa dan yang diuntungkan di dalam sistem yang digunakan oleh Negara-negara maju untuk menjajah negeri-negeri berkembang, yang mayoritasnya adalah negeri kaya milik kaum muslimin. Ditambah lagi, Demokrasi disebut oleh para pencetusnya sebagai sistem terburuk dari yang terburuk yang pernah ada.

Kita sering terkecoh dengan unsur musyawarah yang ada di dalam Demokrasi sebagai sebuah sebuah cara yang juga dipakai oleh kaum muslimin yang disebut dengan syura. Padahal hal ini jelas sangat bertentangan dengan praktik syura di dalam Islam. Menurut Rokhmat S Labib, Demokrasi merupakan pandangan hidup dan sistem pemerintahan yang menjadikan rakyat sebagai pemegang kekuasaan. Prinsip ini meniscayakan seluruh perundang-undangan harus bersumber dari rakyat. Pelaksana praktisnya adalah parlemen yang dianggap sebagai representasi rakyat. Konsekuensinya, apapun undang-undang yang telah dilegislasi oleh parlemen harus ditaati dan dipatuhi, terlepas apakah undang-undang tersebut berasal dari hukum Allah SWT atau bukan. Kehendak rakyat harus ditaati, sementara jumlah rakyat amat banyak dengan keinginan yang berbeda-beda, bahkan bertentangan dengan satu sama lainnya, maka yang harus diikuti adalah yang didukung dengan suara mayoritas.

Beliau menjelaskan bahwa, semua prinsip yang dipakai di dalam sistem Demokrasi itu jelas batil dan bertentangan dengan Islam. Di dalam Islam, seperti kita ketahui bersama, kedaulatan ada di tangan syariah. Ketentuan ini, lanjut beliau, didasarkan pada banyak dalil yang mewajibkan kaum muslim menerapkan syariah dalam totalitas kehidupan. (Lihat: QS Al-Maidah: 48, 49 dan Al-Hasyr: 7). Kemudian, celaan dan ancaman kepada setiap orang yang menerapkan hukum selain yang berasal dari-Nya. (Lihat: QS Al-Maidah: 44, 45 dan 47). Ustadz Rokhmat kembali menjelaskan, setiap permasalahan dan perselisihan yang muncul, di dalam Islam harus dikembalikan lagi kepada Syariah, bukan kepada suara mayoritas manusia yang lemah. (Lihat: QS An-Nisa’: 59, 65). Oleh karena itu, lanjut beliau menjelaskan, kebebasan (freedom) tidak dikenal di dalam masyarakat Islam. Sebaliknya yang ada adalah keterikatan terhadap syariah dalam setiap lini kehidupan. (Lihat: QS An-Nisa: 165).

Dari penjelasan penulis buku Tafsir Al-Wa’ie diatas, telah jelaslah kalau Demokrasi bukan berasal dari Islam dan tidak dapat disamakan dengan syura di dalam Islam. Demokrasi lahir dari ideologi kufur, Sekulerisme. Sedangkan syura berasal dari ideologi Islam, yang diciptakan langsung oleh Sang Khalik, Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. Hal ini juga ditegaskan oleh banyak Ulama. Syeikh Abu A’la al-Maududi menjelaskan bahwa beliau menentang Demokrasi. Dalam salah satu kitabnya beliau menjelaskan, “Telah saya katakan sebelumnya bahwa pengertian Demokrasi dalam peradaban modern adalah memberikan wewenang membuat hukum kepada mayoritas rakyat. Maka dari itu, kita menentang sistem sekuler yang nasionalistis-demokratis, baik yang ditegakkan oleh orang-orang Barat maupun orang-orang Timur, muslim ataupun non muslim.”

Dalam kitabnya “Nizham al-Hukm fi al-Islam,” Muhammad Yusuf Musa menolak dengan tegas sistem kufur ini. Beliau menjelaskan bahwa sesungguhnya sistem pemerintahan Islam bukanlah sistem Demokrasi, baik dalam pengertiannya menurut kaum Yunani kuno maupun dalam pengertiannya yang modern. Ulama Islam lainnya, Anwar al-Jundi mengatakan, “Pemikiran politik Islam berbeda dengan pemikiran Demokrasi Barat, diantaranya karena kedaulatan dalam sistem politik Islam bukanlah di tangan umat seperti sistem Demokrasi, juga bukan di tangan kepala Negara, seperti sistem kediktatoran. Melainkan ada dalam penerapan syariat Islam. Dengan demikian, sistem politik Islam sangat jauh berbeda dengan sistem apapun yang telah menyimpang itu.”

Kembali lagi ke pembahasan soal Demokrasi yang dimanfaatkan oleh Zionis Yahudi. Bagi kaum Zionis Yahudi, hadirnya Negara-negara muslim yang menerapkan sistem Demokrasi bukanlah sebuah ketakutan bagi mereka. Karena terciptanya Negara-negara Islam yang menganut paham Demokrasi juga akibat pengomporan dari mereka. Sesungguhnya, yang mereka takutkan adalah diterapkan syariat Islam di negeri-negeri kaum muslimin. Hal ini pernah ditegaskan oleh Ben Gurion dalam sebuah kesempatan. “Kita tidak takut sama sekali terhadap banyaknya kesepakatan, pemberontakan dan Demokrasi di wilayah ini. Kita hanya takut kepada Islam, si ‘anak nakal’ yang selama ini tidur panjang. Dan yang paling menakutkan bagi kita adalah lahirnya ‘Muhammad baru’ di dunia Arab,” ujar mantan Perdana Menteri Negeri pembantai rakyat Palestina, Zionis Israel tersebut.

Tampak sangat jelas kini ketakutan para Zionis Yahudi ini atas diterapkan syariat Islam di seluruh bumi dengan hadirnya perlawanan dari kaum muslimin di seluruh dunia yang bergerak langsung ke Suriah dan di medan-medan perang lainnya untuk berjihad melawan rezim-rezim kufur yang kini masih berdiri menunggu kehancurannya. Perang di Suriah antara pasukan kaum muslimin dan pasukan rezim Bashar al-Assad yang mengaku diri sebagai Tuhan itu telah menjadi ketakutan tersendiri bagi Zionis Israel, Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Sama-sama telah kita ketahui bersama, perlawanan para mujahidin di Suriah itu tidak lain adalah demi memperoleh ridha Allah SWT demi tegaknya dan kembalinya kemuliaan Islam dalam bingkai Daulah Khilafah Rasyidah ‘ala Minhajjin Nubuwwah atau Kekhilafahan yang mengikuti metode kenabian.

israelmapBahkan, ketakutan akan hancurnya tatanan dunia baru beserta kehancuran “Negara” Zionis Israel telah diprediksi jauh-jauh hari oleh orang-orang Yahudi sendiri. Surat kabar Yordania Ar-Ra’yu edisi 14 Agustus 1981 mengutip dari majalah Newsweek tentang wawancara Koresponden Majalah tersebut Marlyn Danser dengan salah seorang mantan direktur dinas intelijen Israel (Mossad), Harun Yerif.

“Saya tidak yakin bangsa Arab—dalam kondisi yang sekarang—dapat melenyapkan Israel yang sudah memiliki persenjataan canggih. Tetapi pada masa mendatang ada masalah yang dapat menjadi sangat berbahaya bagi Israel, yakni manakala kaum fundamentalis muslim mampu mengubah kondisi bangsa Arab di semua wilayahnya. Kita berharap, semoga banyak dari sahabat-sahabat kita mampu mengatasi ancaman kaum fundamentalis ini pada saat yang tepat.” (Penekanan ditambahkan).

Mengomentari hasil wawancara koresponden Majalah Newsweek dengan salah seorang mantan direktur Mossad ini, penulis Ghazi bin Muhammad Al-Qarni dalam bukunya “Mashadir al- Fikr al-Yahudiy al-Mu’ashir” mengatakan bahwa kaum Yahudi adalah musuh-musuh Islam yang nyata. “Mereka mengetahui kebenaran dan keagungan Islam. Mereka juga mengakui bahwa faktor kekuatan Islam berada dalam genggaman umat Islam sendiri. Alangkah senangnya bila umat ini mengetahui apa sebenarnya Islam sebagaimana yang telah diakui oleh musuh-musuhnya,” ujar Ghazi dengan penuh kekaguman.

Meskipun demikian, Ghazi bin Muhammad Al-Qarni juga menaruh kekecewaan dan keprihatinannya kepada umat Islam sendiri. “Tetapi, banyak dari kalangan umat ini justru hendak menggempur Islam, menghambat dakwahnya, mengunci rapat-rapat setiap pintu menuju kepadanya, membuka lebar-lebar pintu penjara untuk para pengemban dakwahnya, serta memasang tiang-tiang gantungan untuk menghabisi mereka,” sesalnya.

Terakhir, sebelum menutup tulisan ini, selain Demokrasi yang menjadi Khoms Kanun Freemasonry dalam menjalankan agendanya merusak tatanan kehidupan dan agama masyarakat di dunia, ada lagi Sosialisme, Humanisme, Monotheisme yang berujung kepada Pluralisme dan atau Perennialisme, dan terakhir adalah paham Nasionalisme. Insya Allah, keempat asas kelompok Zionis Kabbalah Freemasonry ini akan dibahas dalam kesempatan lain. Atau silahkan baca di buku Artawijaya, “Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara dari Zaman Belanda hingga Pasca Kemerdekaan RI (Pustaka Al-Kautsar, 2010).”

destroy-democracyJadi, melihat semua fakta yang telah penulis beberkan disini, masihkah kita berharap pada Demokrasi. Sudah sepantasnya kita membuang sistem yang telah rusak ini ke dalam tong sampah peradaban. Karena sistem ini tidak dikenal di dalam khazanah keilmuwan Islam dan berasal dari sistem politik dunia Barat yang dipenuhi dengan hadharah non Islam, yang secara hukum syara’ tertolak. Mari bersama-sama, kita sebagai umat Islam bergerak dan bersatu berdakwah demi terwujudnya penegakkan Daulah Khilafah Islamiyah ‘ala Minhajjin Nubuwwah yang telah dikabarkan oleh Baginda Rasulullah Muhammad saw di di dalam bisyarah haditsnya. Sebuah sistem yang berasal langsung dari Sang Pencipta Allah SWT. Sebuah sistem kehidupan yang akan menjadikan kembali Islam sebagai sebuah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Yang akan menyelamatkan kaum muslimin dimanapun berada dari penindasan dan pembantaian orang-orang kafir. (mugiwara no nakama/NMJ)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s